Anak saya tidak berenang. Ia hanya
bermain air.
Perbedaan ini mungkin terdengar
remeh, bahkan sok serius. Bukankah yang penting anak senang? Bukankah air
adalah air, apa pun cara kita berada di dalamnya? Tetapi justru di situlah
letak persoalannya. Bermain air adalah relasi yang kurang mendalam—untuk tidak
menyebutnya dangkal; sedang berenang adalah relasi yang eksistensial. Bermain
air berarti air tunduk pada kita. Berenang berarti kita belajar menyesuaikan
diri pada hukum air.
Anak saya tidak mengatur napas. Ia
tidak mengenal ritme. Tubuhnya tidak membaca air, hanya menabraknya. Ia aman,
tentu saja. Kolam ini dirancang agar tak berbahaya bagi anak seusianya.
Kedalamannya sudah terukur. Tidak ada arus tak terduga. Tidak ada risiko selain
mungkin kelelahan ringan. Tetapi justru karena itu, tidak ada proses menjadi di
sana.
Saya mengingat diri saya sendiri
di usianya. Saya tidak belajar berenang di kolam, apalagi lewat instruktur
bersertifikat. Saya belajar berenang di sungai. Sungai yang airnya keruh,
arusnya tak bisa dinegosiasi, dan kedalamannya yang acap kali menipu. Sungai
yang tidak peduli pada rasa takut kami. Sungai yang tidak selalu menyediakan
pegangan jika kami terseret arus, kecuali keberanian dan insting bertahan hidup
yang mumpuni.
Di sungai, tubuh kami belajar
berpikir. Kami tahu kapan harus melawan arus dan kapan harus menyerah untuk
mengapung. Kami tahu bahwa panik adalah musuh utama. Kami tahu bahwa air tidak
bisa ditaklukkan—ia hanya bisa diikuti. Berenang, dalam pengertian semacam itu,
bukan lagi keterampilan teknis, melainkan pengetahuan tubuh tentang batas
dirinya sendiri.
Generasi saya dibesarkan oleh
pengalaman semacam itu: pengalaman yang tidak ramah, tetapi nyatanya mampu
membentuk—sebutlah karakter. Alam tidak selalu menjanjikan instruksi, hanya menyuguhkan
konsekuensi. Dan dari situlah muncul sejenis kebijaksanaan dasar—bahwa hidup
tidak selalu aman, tetapi selalu bisa dinegosiasikan jika kita peka.
Anak saya hidup di dunia yang
berbeda. Dunia yang jauh lebih aman, tetapi juga jauh lebih terpisah dari
pengalaman elementer. Ia mengenal air sebagai sesuatu yang bersih, jinak, dan
disediakan. Air hadir sebagai fasilitas, bukan sebagai realitas. Ia tidak
pernah berhadapan dengan air sebagai kekuatan yang harus dipahami.
Di sinilah keresahan itu menjadi beralih.
Apa yang terjadi ketika sebuah generasi tumbuh tanpa relasi intim dengan
unsur-unsur dasar kehidupan? Ketika tanah hanya dikenal lewat pot tanaman, api
lewat kompor, dan air lewat kolam berubin biru itu?
Kita acap berbicara tentang
pendidikan karakter, tentang keberanian, ketangguhan, juga kemandirian. Tetapi
kita lupa bahwa karakter bukan hanya dibentuk oleh nasihat, melainkan oleh
situasi konkret yang memaksa tubuh untuk senantiasa berpikir. Sungai dulu
adalah sekolah tanpa kurikulum. Ia mengajarkan risiko, batas, dan bahkan kerendahan
hati.
Kini, nyatanya, sungai bukan lagi
ruang belajar. Ia menjadi ruang yang dijauhi. Dan harus diakui, ini bukan
semata paranoia orang tua. Sungai-sungai kita kini memang banyak yang telah mati—bahkan
Sebagian besar tidak ditemukan di mana mayat dan makamnya. Sungai hari ini
adalah aliran yang airnya tercemar, baunya menyengat, dan tak lagi sehat. Kita
merusaknya, lalu melarang generasi hari ini untuk mendekat. Sebuah lingkaran
yang ironis: kita menghancurkan alam, lalu mengasingkan penerus dari alam yang
telah kita rusak.
Akibatnya, anak-anak kehilangan
satu lapis penting pengalaman manusiawi: pengalaman berhadapan langsung dengan
ketidakpastian alam. Mereka aman, tetapi pada dasarnya rapuh. Terhibur, tetapi sesungguhnya
dangkal. Dekat dengan layar, tetapi jauh dari unsur yang menopang hidup itu
sendiri.
Di kolam renang itu, saya akhirnya
turun ke air. Saya memegangi tubuh anak saya, mengajarinya mengapung. Saya memberi
instruksi kepadanya untuk tetap tenang, jangan melawan, dan mendengarkan air.
Ia sempat panik, tapi perlahan kemudian diam dan tenang. Untuk sesaat, tubuhnya
menemukan keseimbangan yang seharusnya dimiliki oleh perenang. Rasanya yang
saya ajarkan bukan hanya teknik berenang. Saya sedang mengajarkan sebuah sikap
hidup—bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, bahwa kadang bertahan berarti
mengikuti, bukan melawan.
Barangkali inilah yang paling hilang
dari masyarakat kita ketika peradaban sungai menjauh dari generasi: pelajaran
tentang relasi. Relasi antara tubuh dan dunia. Relasi antara manusia dan
kekuatan di luar dirinya. Relasi yang tidak bisa digantikan oleh simulasi atau
fasilitas buatan.
Jika sungai terus mati, maka bukan
hanya ekosistem yang runtuh. Yang runtuh adalah cara manusia belajar menjadi
manusia. Dan kelak, mungkin akan lahir generasi yang pandai bermain air, tetapi
gagap menghadapi arus kehidupan yang sesungguhnya.
Sebagai seorang ayah, kegelisahan itu
tinggal bersama saya—seperti arus halus di bawah permukaan kolam yang tenang.
Dan mungkin, kegelisahan itulah yang tersisa sebagai bentuk tanggung jawab:
menjaga agar anak-anak kita tidak sepenuhnya tercerabut dari air, dari alam,
dan dari pengalaman-pengalaman dasar yang pernah membuat manusia tumbuh dan utuh.

