Ilustrasi (Freepik.com/Kedungademmu.id)

Oleh: Ahmad Nurefendi Fradana

Kedungademmu.id
Hari sudah mulai siang. Saya berdiri di tepi kolam renang, memegangi handuk, sementara anak saya—perempuan berusia sembilan tahun sibuk menepuk-nepuk permukaan air. Ia tertawa, menyelam sebentar, lalu muncul sambil menyemprotkan air dari mulutnya. Sesekali ia melompat, kadang berteriak kegirangan. Dari sudut pandang orang dewasa, barangkali ini adalah pemandangan yang menenangkan sekaligus menyenangkan: seorang anak menikmati air. Tetapi dari sudut pandang seorang ayah—mau tak mau, lahir kegelisahan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Anak saya tidak berenang. Ia hanya bermain air.

Perbedaan ini mungkin terdengar remeh, bahkan sok serius. Bukankah yang penting anak senang? Bukankah air adalah air, apa pun cara kita berada di dalamnya? Tetapi justru di situlah letak persoalannya. Bermain air adalah relasi yang kurang mendalam—untuk tidak menyebutnya dangkal; sedang berenang adalah relasi yang eksistensial. Bermain air berarti air tunduk pada kita. Berenang berarti kita belajar menyesuaikan diri pada hukum air.

Anak saya tidak mengatur napas. Ia tidak mengenal ritme. Tubuhnya tidak membaca air, hanya menabraknya. Ia aman, tentu saja. Kolam ini dirancang agar tak berbahaya bagi anak seusianya. Kedalamannya sudah terukur. Tidak ada arus tak terduga. Tidak ada risiko selain mungkin kelelahan ringan. Tetapi justru karena itu, tidak ada proses menjadi di sana.

Saya mengingat diri saya sendiri di usianya. Saya tidak belajar berenang di kolam, apalagi lewat instruktur bersertifikat. Saya belajar berenang di sungai. Sungai yang airnya keruh, arusnya tak bisa dinegosiasi, dan kedalamannya yang acap kali menipu. Sungai yang tidak peduli pada rasa takut kami. Sungai yang tidak selalu menyediakan pegangan jika kami terseret arus, kecuali keberanian dan insting bertahan hidup yang mumpuni.

Di sungai, tubuh kami belajar berpikir. Kami tahu kapan harus melawan arus dan kapan harus menyerah untuk mengapung. Kami tahu bahwa panik adalah musuh utama. Kami tahu bahwa air tidak bisa ditaklukkan—ia hanya bisa diikuti. Berenang, dalam pengertian semacam itu, bukan lagi keterampilan teknis, melainkan pengetahuan tubuh tentang batas dirinya sendiri.

Generasi saya dibesarkan oleh pengalaman semacam itu: pengalaman yang tidak ramah, tetapi nyatanya mampu membentuk—sebutlah karakter. Alam tidak selalu menjanjikan instruksi, hanya menyuguhkan konsekuensi. Dan dari situlah muncul sejenis kebijaksanaan dasar—bahwa hidup tidak selalu aman, tetapi selalu bisa dinegosiasikan jika kita peka.

Anak saya hidup di dunia yang berbeda. Dunia yang jauh lebih aman, tetapi juga jauh lebih terpisah dari pengalaman elementer. Ia mengenal air sebagai sesuatu yang bersih, jinak, dan disediakan. Air hadir sebagai fasilitas, bukan sebagai realitas. Ia tidak pernah berhadapan dengan air sebagai kekuatan yang harus dipahami.

Di sinilah keresahan itu menjadi beralih. Apa yang terjadi ketika sebuah generasi tumbuh tanpa relasi intim dengan unsur-unsur dasar kehidupan? Ketika tanah hanya dikenal lewat pot tanaman, api lewat kompor, dan air lewat kolam berubin biru itu?

Kita acap berbicara tentang pendidikan karakter, tentang keberanian, ketangguhan, juga kemandirian. Tetapi kita lupa bahwa karakter bukan hanya dibentuk oleh nasihat, melainkan oleh situasi konkret yang memaksa tubuh untuk senantiasa berpikir. Sungai dulu adalah sekolah tanpa kurikulum. Ia mengajarkan risiko, batas, dan bahkan kerendahan hati.

Kini, nyatanya, sungai bukan lagi ruang belajar. Ia menjadi ruang yang dijauhi. Dan harus diakui, ini bukan semata paranoia orang tua. Sungai-sungai kita kini memang banyak yang telah mati—bahkan Sebagian besar tidak ditemukan di mana mayat dan makamnya. Sungai hari ini adalah aliran yang airnya tercemar, baunya menyengat, dan tak lagi sehat. Kita merusaknya, lalu melarang generasi hari ini untuk mendekat. Sebuah lingkaran yang ironis: kita menghancurkan alam, lalu mengasingkan penerus dari alam yang telah kita rusak.

Akibatnya, anak-anak kehilangan satu lapis penting pengalaman manusiawi: pengalaman berhadapan langsung dengan ketidakpastian alam. Mereka aman, tetapi pada dasarnya rapuh. Terhibur, tetapi sesungguhnya dangkal. Dekat dengan layar, tetapi jauh dari unsur yang menopang hidup itu sendiri.

Di kolam renang itu, saya akhirnya turun ke air. Saya memegangi tubuh anak saya, mengajarinya mengapung. Saya memberi instruksi kepadanya untuk tetap tenang, jangan melawan, dan mendengarkan air. Ia sempat panik, tapi perlahan kemudian diam dan tenang. Untuk sesaat, tubuhnya menemukan keseimbangan yang seharusnya dimiliki oleh perenang. Rasanya yang saya ajarkan bukan hanya teknik berenang. Saya sedang mengajarkan sebuah sikap hidup—bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, bahwa kadang bertahan berarti mengikuti, bukan melawan.

Barangkali inilah yang paling hilang dari masyarakat kita ketika peradaban sungai menjauh dari generasi: pelajaran tentang relasi. Relasi antara tubuh dan dunia. Relasi antara manusia dan kekuatan di luar dirinya. Relasi yang tidak bisa digantikan oleh simulasi atau fasilitas buatan.

Jika sungai terus mati, maka bukan hanya ekosistem yang runtuh. Yang runtuh adalah cara manusia belajar menjadi manusia. Dan kelak, mungkin akan lahir generasi yang pandai bermain air, tetapi gagap menghadapi arus kehidupan yang sesungguhnya.

Sebagai seorang ayah, kegelisahan itu tinggal bersama saya—seperti arus halus di bawah permukaan kolam yang tenang. Dan mungkin, kegelisahan itulah yang tersisa sebagai bentuk tanggung jawab: menjaga agar anak-anak kita tidak sepenuhnya tercerabut dari air, dari alam, dan dari pengalaman-pengalaman dasar yang pernah membuat manusia tumbuh dan utuh.