Acara penerimaan mahasiswa KKN tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Tlogorejo beserta jajaran perangkat desa, dosen pembimbing lapangan, tokoh masyarakat, serta seluruh mahasiswa peserta KKN. Kegiatan ini menandai dimulainya sinergi strategis antara perguruan tinggi dan desa yang selama ini dikenal sebagai salah satu desa berprestasi di Kabupaten Bojonegoro.
Mengusung tema “Belajar dari Desa, Berkontribusi untuk Desa”, program KKN ini menempatkan Desa Tlogorejo bukan sekadar sebagai objek pengabdian, melainkan sebagai mitra yang telah memiliki ekosistem sosial dan ekonomi yang kuat. Sambutan hangat dari masyarakat menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa diterima sebagai rekan kolaborasi yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi kemajuan desa.
Kepala Desa Tlogorejo, H. Moh. Hamim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro. Ia menegaskan bahwa meskipun desa telah meraih berbagai prestasi, peluang untuk berinovasi tetap terbuka luas.
“Desa kami memang sudah memperoleh beberapa prestasi, tetapi kami yakin masih banyak potensi yang bisa dikembangkan. Pertanian, peternakan, dan UMKM yang sudah berjalan membutuhkan ide-ide segar, kreativitas, serta pendokumentasian yang lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi yang sejajar antara mahasiswa dan masyarakat, sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dapat dipadukan dengan kearifan lokal. Kehadiran KKN diharapkan mampu mengakselerasi program desa, khususnya dalam bidang digitalisasi dan pemasaran produk unggulan.
Desa Tlogorejo dikenal sebagai desa unggulan dengan berbagai capaian, seperti juara lomba desa tingkat kecamatan dan penggerak ekonomi kreatif berbasis komunitas. Potensi desa meliputi pertanian modern, perikanan, pembibitan anggur impor, wisata petik anggur, hingga keberadaan embung dan bentang alam pertanian yang berpeluang dikembangkan sebagai eduwisata.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan KKN, Muh. Zakki Amrulloh, menjelaskan bahwa mahasiswa telah dibekali pendekatan partisipatif sebelum terjun ke masyarakat. Program kerja KKN dirancang untuk mendampingi dan memfasilitasi, bukan menggurui.
“Fokus kami meliputi pendampingan pembelajaran di lembaga pendidikan desa, pembuatan konten promosi potensi desa, serta pelatihan-pelatihan sesuai kebutuhan yang telah kami diskusikan bersama perangkat desa,” tuturnya.
Rangkaian acara pembukaan ditutup dengan sesi ramah tamah antara mahasiswa dan warga. Melalui KKN ini, diharapkan terjalin kemitraan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Mahasiswa memperoleh ruang pembelajaran sosial yang nyata, sementara Desa Tlogorejo mendapatkan energi dan perspektif baru untuk meningkatkan daya saing serta pembangunan desa.

