Berfoto bersama setelah usai acara Safari Dakwah Kesehatan

Kedungademmu.id
Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan di Indonesia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah penderita kanker serviks tertinggi di dunia.

 Fakta tersebut disampaikan oleh dokter Ulfia Savitri dalam kegiatan Safari Dakwah bertema kesehatan yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Malang bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Kedungkandang.

Mengusung tema “The Silent Killer: Kenali dan Cegah Kanker Serviks Sejak Dini”, kegiatan ini diikuti sekitar 20 peserta yang terdiri atas anggota Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang dan masyarakat setempat. Safari dakwah dilaksanakan pada Minggu (25/1/2026) mulai pukul 08.00 WIB bertempat di Masjid Buya Hamka, Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Sebelum acara dimulai, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Cemorokandang, Darmadji, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai safari dakwah bertema kesehatan ini sebagai bentuk dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan perempuan.

Safari dakwah sendiri merupakan agenda rutin bulanan PDNA Kota Malang yang dilaksanakan secara bergilir di setiap cabang. Pada bulan Januari ini, PCNA Kedungkandang dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan.
Dalam pemaparannya, dokter Ulfia Savitri menjelaskan bahwa serviks merupakan bagian tubuh perempuan yang menghubungkan rahim (uterus) dengan vagina. Kanker serviks atau kanker leher rahim umumnya menyerang perempuan usia 35 hingga 64 tahun dan disebabkan oleh infeksi virus Human Papilloma Virus (HPV).

Ada beberapa faktor risiko kanker serviks, di antaranya menikah di usia terlalu muda karena sel tubuh masih rentan, melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan, memiliki jumlah anak yang banyak sehingga menyebabkan kerusakan sel, terpapar asap rokok, serta menurunnya sistem kekebalan tubuh,” jelas alumnus Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kanker serviks dapat mengalami masa inkubasi cukup panjang, yakni antara tiga hingga 15 tahun. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi sangat penting. Upaya skrining dapat dilakukan melalui pemeriksaan pap smear, tes DNA-HPV, maupun biopsi.

Adapun gejala kanker serviks antara lain nyeri panggul, gangguan siklus menstruasi, perdarahan di luar masa haid, perdarahan spontan, serta perdarahan pada masa menopause.

Selain deteksi dini, dr. Ulfia juga menekankan pentingnya pencegahan melalui vaksinasi HPV. Vaksin kanker serviks dianjurkan diberikan kepada anak perempuan sebelum menikah, bahkan dapat dimulai sejak duduk di kelas lima sekolah dasar.

Ia pun mendorong para peserta, khususnya para ibu, agar aktif mengedukasi dan mendorong putri-putri mereka untuk mendapatkan vaksin HPV sebagai langkah preventif menjaga kesehatan reproduksi perempuan sejak dini.

Melalui kegiatan safari dakwah ini, PDNA Kota Malang berharap kesadaran masyarakat, khususnya kaum perempuan, terhadap bahaya kanker serviks semakin meningkat serta mampu mendorong perilaku hidup sehat dan preventif di lingkungan keluarga maupun masyarakat.