Kegiatan ini digelar sebagai langkah strategis dalam membekali pendidik menghadapi disrupsi teknologi di dunia pendidikan.
Kegiatan bimtek diikuti oleh delegasi guru dari seluruh SD/MI Muhammadiyah se-Kabupaten Bojonegoro. Setiap lembaga mengirimkan tiga guru terbaik sebagai peserta dengan harapan mampu menjadi motor penggerak transformasi pembelajaran berbasis teknologi di sekolah masing-masing.
Sebelum acara utama dimulai, suasana haru menyelimuti aula melalui penampilan siswa SDLB Muhammadiyah Padangan yang membawakan lantunan lagu-lagu Islami. Penampilan siswa berkebutuhan khusus tersebut berhasil menyentuh hati para peserta dan tamu undangan, sekaligus menegaskan komitmen Muhammadiyah terhadap pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro, H. Suwito, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran guru dalam merespons perubahan zaman, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. "Pada masa lalu, guru menjadi satu-satunya sumber ilmu dengan keterbatasan media. Namun hari ini, informasi bergerak jauh lebih cepat. Jika guru tidak mampu mengendalikan dan memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan, maka kita berisiko tertinggal oleh zaman, bahkan oleh peserta didik kita sendiri,” tegasnya.
Bimtek ini menghadirkan dua narasumber kompeten di bidangnya. Falidan Ahmad, Widyaiswara BBGTK Jawa Timur, menyampaikan materi tentang pemanfaatan AI dan coding dalam pembelajaran. Ia memaparkan bagaimana kecerdasan buatan dapat membantu guru mengotomatisasi administrasi, menyusun bahan ajar, serta mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis coding.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Nurul Hidayah, Kepala SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro, yang mengulas strategi penyusunan soal asesmen akhir dan asesmen madrasah. Ia menekankan pentingnya kualitas instrumen penilaian agar selaras dengan standar kompetensi dan capaian pembelajaran terbaru.
Melalui bimtek ini, FOSKAM Bojonegoro menargetkan lahirnya guru-guru yang melek AI, adaptif terhadap teknologi, dan terampil menyusun asesmen berkualitas. Diharapkan, para peserta dapat menularkan ilmu yang diperoleh kepada rekan sejawat di sekolah masing-masing sehingga pemanfaatan AI dan coding tidak lagi sekadar wacana, melainkan menjadi praktik nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Bojonegoro.

