Selamat jalan, Doraemon (Unsplash.com/Kedungademmu.id)

Oleh: Ahmad Nurefendi Fradana; Dosen Literasi Umsida, Penggemar Doraemon

Kedungademmu.id—Januari 2026 ini, RCTI—salah satu stasiun televisi populer Indonesia resmi menghentikan penayangan film kartun Doraemon setelah tiga puluh tahun. Berita ini, bagi sebagian orang, mungkin hanya kabar televisi yang lewat semacam jeda iklan. Namun bagi saya—lelaki hampir 36 tahun sekaligus anak-anak yang dahulu setiap Ahad pagi duduk manis di depan televisi tabung—ini adalah peristiwa eksistensial. Saya mungkin tidak terima jika Doraemon hanya disebut kartun. Doraemon adalah saksi bisu dari satu fase hidup yang tidak akan pernah bisa diputar ulang, bahkan dengan pintu ke mana saja.

Doraemon adalah ritus. Setiap Ahad pagi, dulu, ia hadir sebagai liturgi keluarga kelas menengah—ke bawah—Indonesia. Sebelum dunia mengenal streaming, sebelum algoritma mendikte selera kita, Doraemon datang pada waktu yang sama, di layar yang sama, dengan konflik yang nyaris selalu sama—dan itu justru yang membuatnya menenangkan. Nobita akan gagal, Gian akan menindas, Suneo akan pamer, Shizuka akan manja—dan kantong ajaib Doraemon akan mengeluarkan alat. Dunia selalu kembali ke keseimbangannya. Tidak ada plot twist. Tidak ada trauma permanen. Segalanya bisa diperbaiki—asal tersedia alat.

Sebagai anak-anak, saya percaya sepenuhnya pada logika dunia itu. Setiap masalah, betapapun besar, pasti ada solusinya. Jika tidak hari ini, mungkin dari kantong ajaib besok. Doraemon adalah metafisika harapan dalam wujud kucing robot. Ia mengajarkan bahwa masa depan bisa membantu masa kini, bahwa kegagalan bukan akhir, dan bahwa teknologi—meski acap disalahgunakan oleh Nobita—pada akhirnya akan berpihak pada kebaikan. Ini adalah optimisme khas era pasca-Perang Dunia II yang dibungkus dengan humor slapstick.

Namun di sinilah justru ironi pertama muncul. Doraemon adalah makhluk dari abad ke-22 yang dikirim untuk memperbaiki masa depan dengan membenahi masa lalu. Tetapi kita, generasi yang tumbuh bersamanya, justru menua di abad ke-21 yang semakin kehilangan masa depan. Perubahan iklim, krisis demokrasi, kecerdasan artifisial yang menggantikan kerja manusia—semua ini tidak bisa diselesaikan dengan baling-baling bambu. Doraemon mungkin datang dari masa depan, tetapi masa depan kita tampaknya tidak lagi seramah dunia mereka.

Ketika penayangannya dihentikan, saya menyadari sesuatu yang tidak pernah saya sadari sebelumnya: Doraemon selalu ada. Ia adalah latar belakang permanen kehidupan kanak-kanak saya. Dari televisi tabung, layar datar, hingga YouTube—Doraemon tetaplah Doraemon. Ia adalah simbol stabilitas di tengah dunia yang, kata Piliang, terus berlari. Maka ketika ia pergi, yang sesungguhnya kita rasakan bukanlah kehilangan tontonan, melainkan runtuhnya ilusi kontinuitas.

Heidegger mungkin menyebut bahwa manusia adalah makhluk yang sadar akan kefanaan. Namun teori itu terasa dingin dibandingkan perasaan kehilangan ini. Doraemon adalah being yang tidak menua, sementara kita—pelan namun pasti akan meninggalkan jejak pada waktu. Nobita tetap menjadi siswa kelas 5 SD, sementara rambut kita mulai ditumbuhi uban. Dalam relasi ini, Doraemon bukan teman sebaya, melainkan cermin waktu yang sungguh kejam. Ketika ia berhenti tayang, cermin itu tiba-tiba pecah. Berkeping-keping.

Doraemon adalah produk Jepang yang diterima nyaris tanpa resistensi di Indonesia. Ia masuk ke ruang keluarga tanpa dicurigai sebagai imperialisme budaya. Mengapa? Karena ia tidak pernah menggurui. Bahkan ia tidak datang dengan senjata atau ideologi. Ia datang dengan humor, empati, dan kegagalan yang demikian manusiawi. Dalam dunia akademik, ini bisa dibaca sebagai soft power paling efektif yang pernah ada. Jepang tidak menaklukkan kita dengan kekuatan militer, tetapi dengan kucing robot biru itu.

Namun generasi hari ini tumbuh tanpa ritus yang sama. Anak-anak sekarang tidak lagi menunggu Ahad pagi. Mereka bisa menonton kapan saja, apa saja, nyaris tanpa upaya, dan tanpa jeda. Algoritma telah menggantikan jadwal. Dalam dunia seperti ini, karakter ciptaan Fujiko Fujio ini menjadi artefak dari zaman yang lebih lambat, lebih polos, dan—ironisnya—jauh lebih manusiawi. Ketika RCTI menghentikan penayangannya, tidak bisa semata dipandang sebagai keputusan bisnis; peristiwa ini sekaligus tanda bahwa televisi sebagai ruang kolektif telah benar-benar runtuh.

Secara filosofis, tidak terlalu berlebihan bila peristiwa kehilangan ini disebut momen berkabung. Freud menyebut mourning sebagai proses melepaskan keterikatan emosional pada objek yang hilang. Tetapi bagaimana kita melepaskan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita sadari sebagai objek keterikatan? Doraemon adalah bagian dari struktur bawah sadar generasional. Doraemon adalah background noise eksistensial. Kehilangannya menciptakan semacam keheningan yang canggung.

Lalu, apa yang tersisa? Kita bisa, tentu saja, menonton ulang episode-episode lama di internet. Tetapi itu adalah nostalgia yang hampa. Seperti mengunjungi rumah masa kecil yang sudah direnovasi: bentuknya mungkin masih sama, tetapi jiwanya terasa hilang. Doraemon yang sejati adalah Doraemon yang dinanti, bukan yang dipilih melalui scroll jemari. Ia hadir bukan karena kita mencarinya, tetapi karena waktu yang mengantarkannya.

Ketika Doraemon pergi, ia ternyata membawa serta satu versi diri kita yang lebih naif, lebih optimis, sekaligus lebih percaya pada masa depan. Dan barangkali, justru karena itulah ia harus pergi. Sebab menjadi dewasa adalah belajar hidup tanpa kantong ajaib—dan tetap bertanggung jawab atas dunia yang kita warisi.