Foto bersama mahasiswa KKN STIKES Maboro dan siswa peserta kegiatan seni meronce di Desa Sumberagung dengan hasil karya gelang buatan sendiri (Istimewa/kedungademmu.id)

Kedungademmu.id
Pendidikan dasar tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung di dalam kelas. Lebih dari itu, anak-anak juga membutuhkan ruang ekspresi untuk mengembangkan kreativitas serta keterampilan motorik sebagai bagian penting dari proses tumbuh kembang.

Memahami hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIKES Muhammadiyah Bojonegoro (STIKES Maboro) tahun 2026 menghadirkan program edukatif bertajuk “Meronce Gelang Manik-Manik” bagi siswa sekolah dasar di Desa Sumberagung.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, (24/01/2026), mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, dengan melibatkan 17 siswa kelas rendah, terdiri atas 9 siswa kelas I dan 8 siswa kelas II. Sebanyak 8 mahasiswa KKN hadir sebagai fasilitator dan pendamping dalam kegiatan yang berlangsung penuh keceriaan tersebut.

Acara diawali dengan sesi pembukaan dan absensi peserta. Selanjutnya, mahasiswa memberikan penjelasan singkat mengenai teknik dasar meronce, yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan menarik agar mudah dipahami anak-anak.

Para peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok kecil untuk memastikan setiap siswa memperoleh pendampingan secara intensif. Saat alat dan bahan dibagikan, antusiasme anak-anak tampak meningkat. Mereka mulai memilih manik-manik berwarna-warni dan merangkainya menjadi gelang sesuai imajinasi masing-masing.

Kegiatan meronce ini memiliki nilai edukatif yang tinggi karena melatih ketelitian, kesabaran, serta koordinasi antara mata dan tangan. Proses memasukkan benang ke dalam lubang manik-manik yang kecil menjadi latihan efektif untuk merangsang perkembangan motorik halus siswa, yang kelak berperan penting dalam kemampuan menulis dan keterampilan tangan lainnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa juga menghadapi tantangan teknis, seperti tali pengikat yang licin sehingga memerlukan teknik khusus agar gelang tidak mudah terlepas. Kendala tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam meningkatkan kesiapan dan kekompakan pendampingan di lapangan.

Meskipun proses finishing cukup menantang, para siswa tetap menunjukkan semangat tinggi. Mereka saling membantu dan tampak bangga ketika gelang hasil karya mereka berhasil selesai dan melingkar di pergelangan tangan masing-masing.

Sebagai bentuk apresiasi, mahasiswa memberikan hadiah kecil kepada siswa dengan karya terbaik serta peserta yang paling aktif. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, di mana seluruh siswa memamerkan gelang buatan mereka dengan senyum penuh kebanggaan.

Melalui program seni meronce ini, mahasiswa KKN STIKES Maboro berharap kreativitas anak-anak dapat terus tumbuh sejak dini. Gelang yang mereka bawa pulang bukan sekadar aksesori, melainkan simbol ketekunan, kesabaran, dan semangat berkarya.