Mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro berfoto bersama usai pelatihan inovasi olahan kelor untuk pencegahan stunting di Desa Sumodikaran (Istimewa/kedungademmu.id)

Kedungademmu.idMahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Bojonegoro menghadirkan inovasi menu sehat berbahan dasar daun kelor sebagai upaya melawan stunting di pedesaan. Melalui workshop interaktif yang digelar di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, mereka mengolah kelor menjadi makanan kekinian berupa puding dan pancake yang lezat serta bergizi tinggi, (31/1/2026).

Program ini menjadi jawaban atas anggapan bahwa makanan sehat selalu identik dengan biaya mahal. Daun kelor yang selama ini tumbuh melimpah di pekarangan warga ternyata memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, terutama bagi anak-anak.

Ketua Kelompok KKN, Novi Nur Laili Muhibbah, menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pencegahan stunting adalah kebiasaan anak yang enggan mengonsumsi sayuran.
 Kami mencoba menghadirkan solusi sederhana. Anak-anak sering menolak sayur, maka kelor kami olah menjadi puding dan pancake agar lebih menarik, namun tetap bernilai gizi tinggi,” ujarnya.

Workshop ini dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ahmad Syauqi Fuadi, yang menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial di tengah masyarakat.
Mahasiswa harus mampu membaca persoalan riil di desa dan menawarkan solusi yang aplikatif. Inovasi pangan berbasis potensi lokal seperti ini sangat relevan untuk pencegahan stunting,” jelasnya.

Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Desa Sumodikaran. Kepala Desa Sumodikaran, Hj. Khotimah, berharap kegiatan ini mampu menginspirasi para ibu rumah tangga untuk lebih kreatif dalam menyajikan makanan sehat bagi keluarga.
Kami ingin masyarakat tidak lagi bergantung pada jajanan instan yang rendah gizi. Padahal bahan pangan sehat tersedia di sekitar rumah,” tuturnya.

Aspek kesehatan semakin diperkuat melalui pemaparan Bidan Desa Sumodikaran, Lia, yang menjelaskan bahwa daun kelor kaya akan protein, kalsium, serta zat besi yang sangat bermanfaat untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Senada dengan itu, penggerak PKK Desa Sumodikaran, Elva Tiara, mengajak para kader posyandu untuk menjadikan olahan kelor sebagai menu alternatif dalam kegiatan pelayanan kesehatan balita.
Kami akan mendorong agar resep ini menjadi menu rutin di posyandu sebagai bagian dari edukasi gizi keluarga,” ujarnya.

Kegiatan workshop berlangsung interaktif dan disambut antusias oleh warga. Salah satu peserta, Yeti, mengaku memperoleh wawasan baru tentang cara mengolah kelor.
Selama ini kelor hanya kami masak sebagai sayur bening. Ternyata bisa dibuat pancake yang harum dan lembut. Ini cocok sekali untuk bekal sekolah anak,” katanya.

Melalui inovasi sederhana ini, mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro menegaskan bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari rumah dengan memanfaatkan potensi lokal serta kreativitas dalam pengolahan pangan. Desa Sumodikaran kini memiliki bekal pengetahuan baru untuk mencetak generasi yang lebih sehat dan berkualitas.