![]() |
| Seremoni penerimaan mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro yang digelar di Pendopo Kecamatan Kepohbaru (Istimewa/kedungademmu.id) |
Sebanyak puluhan mahasiswa tersebut dibagi menjadi tiga kelompok dan ditempatkan di tiga desa, yaitu Desa Sumberagung, Desa Tlogorejo, dan Desa Sumberoto. Program KKN akan berlangsung selama satu bulan dengan mengusung tema “Penguatan Ketahanan Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Berbasis Potensi Lokal Menuju Desa yang Mandiri, Religius, dan Berkelanjutan.”
Rombongan mahasiswa diterima langsung oleh Camat Kepohbaru, Triguno Sudjono Prio, didampingi unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), antara lain Kapolsek dan Danramil Kepohbaru, serta jajaran pimpinan STIT Muhammadiyah Bojonegoro.
Dalam sambutannya, Triguno menyambut baik kehadiran para mahasiswa dan berharap kegiatan KKN dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa. Ia menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi antara mahasiswa dengan pemerintah desa.
“Mahasiswa yang sedang KKN jika memiliki ide atau gagasan, silakan disampaikan kepada kepala desa. Dengan kehadiran kalian, desa diharapkan dapat menemukan solusi atas berbagai persoalan yang ada. Inovasi dan sumber daya manusia sangat dibutuhkan di tingkat desa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan kondisi sosial dan budaya masing-masing desa. Menurutnya, komunikasi yang baik dengan pemerintah desa dan aparat setempat menjadi kunci kelancaran program KKN.
Sementara itu, Ketua STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Ibnu Habibi, menyampaikan bahwa KKN bukan sekadar program pengabdian masyarakat, tetapi juga sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa.
“KKN menjadi media bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial, jiwa kepemimpinan, serta kemampuan bekerja sama dengan berbagai pihak di masyarakat,” tuturnya.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Aulia Singa Zanki, menjelaskan bahwa penempatan mahasiswa di Kecamatan Kepohbaru dilakukan berdasarkan pertimbangan akademik dan pengalaman lapangan.
“Saya memilih Kepohbaru karena memahami kondisi geografis dan potensi desanya. Saya pernah menjadi pendamping desa di wilayah ini sehingga mengetahui kebutuhan dan tantangan masyarakat. Hal itu menjadi dasar penempatan mahasiswa agar program KKN lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Melalui program KKN ini, mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro diharapkan mampu berperan aktif dalam penguatan pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta peningkatan kepedulian terhadap lingkungan, sejalan dengan upaya mewujudkan desa yang mandiri dan berkelanjutan.

