![]() |
| Pelajar Muhammadiyah mengikuti diskusi kesiapsiagaan bencana yang digelar sebagai bagian dari program pengurangan risiko bencana di lingkungan pendidikan (Istimewa/kedungademmu.id) |
Kesadaran mengenai pentingnya pengurangan risiko bencana kembali ditegaskan dalam penguatan peran Pelajar Muhammadiyah yang disampaikan pada Rabu, (28/1026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya aman bencana di lingkungan pendidikan.
Pelajar Muhammadiyah dipandang memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai kesiapsiagaan sejak dini. Sekolah dinilai sebagai ruang efektif untuk membentuk karakter generasi muda yang peduli, tangguh, serta responsif terhadap potensi ancaman kebencanaan.
Anggota Bidang Mitigasi dan Kesiapsiagaan MDMC PWM Jawa Timur, Bambang Setyo Utomo, menegaskan bahwa bencana tidak boleh disikapi dengan sikap pasrah tanpa upaya. “Sebagai kader Muhammadiyah, kita tidak dibenarkan bersikap fatalistik. Islam mengajarkan ikhtiar, pencegahan, dan kesiapan untuk melindungi diri serta sesama,” ujarnya.
Menurut Bambang, semangat Islam berkemajuan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti perencanaan, edukasi, serta peningkatan kapasitas kebencanaan di kalangan pelajar. Ia menilai Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di sekolah maupun masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa gerakan pengurangan risiko bencana merupakan bagian dari implementasi teologi Al-Ma’un yang menjadi ruh perjuangan Muhammadiyah.
“Bencana hari ini adalah bentuk nyata kesengsaraan sosial yang menuntut kehadiran kita untuk membantu dan menguatkan,”katanya.
Dalam sistem penanggulangan bencana Muhammadiyah, IPM berperan dalam kerangka One Muhammadiyah One Resilience (OMOR) yang dikoordinasikan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), sehingga gerakan pelajar berjalan terarah dan terintegrasi.
Bambang menjelaskan bahwa pelajar perlu memahami konsep dasar risiko bencana yang dipengaruhi oleh ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Ancaman alam tidak dapat dihilangkan, namun risikonya dapat ditekan melalui peningkatan kesiapsiagaan.
Pada fase pra-bencana, IPM didorong menjadi penggerak literasi kebencanaan di sekolah. Salah satu langkah konkret adalah menginisiasi pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) agar sekolah memiliki sistem mitigasi yang jelas.
Selain itu, pelajar dapat melakukan pemetaan risiko secara partisipatif dengan mengidentifikasi potensi bahaya di lingkungan sekolah. “Hal-hal kecil yang sering diabaikan justru bisa berdampak besar saat bencana terjadi,” ungkap Bambang.
Kesiapsiagaan juga perlu diperkuat melalui simulasi evakuasi yang dilakukan secara rutin. Latihan tersebut dinilai mampu membentuk refleks dan ketenangan siswa dalam menghadapi situasi darurat.
Ketika bencana terjadi, pelajar diingatkan untuk mengutamakan keselamatan diri dan membantu teman sebaya sesuai kemampuan. Bambang menegaskan bahwa pelajar tidak diperkenankan mengambil risiko di luar kapasitasnya.
IPM juga dapat berkontribusi sebagai relawan data dan informasi dengan membantu pendataan siswa terdampak. Data tersebut menjadi dasar penyaluran bantuan melalui MDMC dan Lazismu secara tepat sasaran.
Pada fase pasca-bencana, peran pelajar diwujudkan melalui dukungan psikososial, seperti pendampingan anak-anak korban bencana agar kembali pulih secara emosional dan bersemangat melanjutkan pendidikan.
Bambang berharap keterlibatan aktif tersebut dapat membentuk pelajar Muhammadiyah menjadi kader yang tangguh dan siap menghadapi risiko. “Kader yang kuat bukan yang paling berani menghadapi bahaya, tetapi yang paling siap mengelola risiko. Sekolah Muhammadiyah harus menjadi sekolah aman bencana,” pungkasnya.

