Makna Puasa: Menahan Diri dan Menata Hati (Unsplash.com/Kedungademmu.id)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Memasuki hari kedua Ramadan, semangat kita masih terasa hangat. Namun pada saat yang sama, tubuh mulai menyesuaikan diri dengan perubahan ritme. Di sinilah kita perlu kembali memahami makna puasa yang sesungguhnya. Puasa bukan sekadar aktivitas fisik menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan besar untuk menahan diri dan menata hati.

Sering kali kita memahami puasa secara minimalis: yang penting tidak makan dan tidak minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa puasa memiliki dimensi yang jauh lebih dalam. Dalam sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhari, beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Hadis ini sangat tegas. Allah tidak membutuhkan lapar dan haus kita jika puasa tidak mengubah perilaku kita. Artinya, inti puasa bukan sekadar menahan yang bersifat fisik, tetapi menahan diri dari segala bentuk keburukan.

Jamaah sekalian,

Menahan diri adalah pekerjaan yang tidak mudah. Manusia diciptakan dengan hawa nafsu. Kita memiliki dorongan untuk marah, membalas, mengeluh, bahkan menyakiti. Ramadan datang untuk melatih kita mengelola dorongan itu, bukan menghilangkannya, tetapi mengarahkannya.

Ketika kita sedang berpuasa lalu tersulut emosi, saat itulah sesungguhnya ujian puasa terjadi. Ketika kita mampu berkata dalam hati, “Saya sedang berpuasa,” lalu memilih diam dan bersabar, di situlah kualitas puasa kita meningkat. Puasa mendidik kita agar tidak reaktif, tidak mudah tersulut, dan tidak gampang menyakiti orang lain dengan lisan maupun tindakan.

Lisan adalah salah satu medan utama ujian puasa. Betapa mudahnya seseorang tergelincir dalam ghibah, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau berkata kasar. Di era media sosial, ujian ini bahkan semakin berat. Satu kalimat yang kita tulis bisa melukai banyak orang. Karena itu, puasa harus menjadi momentum untuk membersihkan lisan, baik lisan yang diucapkan maupun lisan yang dituliskan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Selain menahan diri, puasa juga mengajarkan kita untuk menata hati. Hati adalah pusat dari segala perilaku. Jika hati bersih, maka tindakan pun akan baik. Tetapi jika hati penuh iri, sombong, dan dengki, maka ibadah sebesar apa pun akan terasa kering.

Ramadan memberi ruang untuk membersihkan hati. Kita lebih banyak membaca Al-Qur’an, lebih sering berdoa, lebih khusyuk dalam shalat. Semua itu adalah proses penyucian batin. Dalam suasana puasa, kita belajar merendahkan diri di hadapan Allah, menyadari kelemahan kita, dan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah lalu.

Menata hati juga berarti memperbaiki niat. Mengapa kita berpuasa? Apakah sekadar karena kebiasaan keluarga? Apakah hanya karena lingkungan sekitar juga berpuasa? Ataukah benar-benar karena ingin taat kepada Allah dan menggapai ridha-Nya? Ramadan mengajarkan kita untuk selalu mengoreksi niat, agar ibadah kita tidak kosong dari makna.

Jamaah yang berbahagia,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi tekanan: pekerjaan yang berat, masalah keluarga, persoalan ekonomi, bahkan perbedaan pendapat di tengah masyarakat. Jika hati tidak tertata, semua itu bisa memicu konflik dan pertengkaran. Tetapi jika hati terlatih oleh puasa, kita menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih tenang dalam mengambil keputusan.

Puasa juga mengajarkan kesederhanaan. Ketika kita terbiasa menahan diri dari berlebihan, kita belajar hidup secukupnya. Ramadan seharusnya bukan bulan pemborosan, tetapi bulan pengendalian. Bukan bulan pamer kemewahan, tetapi bulan berbagi dan kepedulian.

Menahan diri dan menata hati inilah yang pada akhirnya melahirkan takwa. Takwa bukan sekadar label, tetapi karakter yang tampak dalam sikap sehari-hari: jujur, amanah, tidak mudah marah, dan tidak suka menyakiti orang lain.

Hadirin sekalian,

Di hari kedua Ramadan ini, marilah kita memperdalam kualitas puasa kita. Jangan hanya menahan lapar, tetapi tahan pula amarah. Jangan hanya menahan haus, tetapi tahan pula lisan dari kata-kata yang menyakitkan. Jangan hanya menahan makan, tetapi tahan pula hati dari iri dan dengki.

Jika setiap hari Ramadan kita gunakan untuk melatih pengendalian diri dan penataan hati, insya Allah di akhir bulan kita akan menjadi pribadi yang lebih matang, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah Swt. menerima puasa kita, membersihkan hati kita, dan menjadikan Ramadan ini sebagai titik awal perbaikan diri yang berkelanjutan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh