(www.unplash.com)

Oleh: Abdul Rozak Choiruddin

Kedungademmu.id
— Setiap datangnya Ramadan, suasana berubah menjadi lebih hangat dan semarak. Spanduk terbentang di berbagai sudut jalan, pamflet bertebaran dengan desain yang semakin kreatif, dan ucapan “Marhaban ya Ramadan” memenuhi lini masa media sosial. Antusiasme itu menghadirkan energi kebersamaan yang indah untuk disaksikan.

Namun, di balik keramaian tersebut, ada satu hal kecil yang kerap luput dari perhatian. Di tengah semangat yang sama, tanggal awal Ramadan terkadang berbeda. Ada yang memulai lebih dahulu, ada pula yang menyusul sehari setelahnya. Semua tentu memiliki dasar, keyakinan, dan pertimbangan masing-masing.

Dalam konteks Muhammadiyah, awal Ramadan ditetapkan melalui manhaj hisab hakiki wujudul hilal yang telah menjadi ciri dan identitas organisasi sejak lama. Keputusan itu bukan hasil pertimbangan sesaat, melainkan melalui mekanisme yang konsisten, terukur, dan terjaga dari tahun ke tahun oleh Muhammadiyah. Ia hadir sebagai wujud komitmen terhadap prinsip, bukan sekadar mengikuti arus mayoritas.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadan berdasarkan sidang isbat dengan metode rukyat dan hisab. Perbedaan pendekatan ini kerap melahirkan selisih satu hari dalam memulai ibadah puasa.

Perbedaan tersebut sesungguhnya bukan persoalan baru. Ia telah menjadi bagian dari dinamika umat Islam di Indonesia. Yang menarik justru bukan pada selisih harinya, melainkan pada sikap kita dalam menyikapinya.

Kadang, demi menjaga suasana tetap terasa ramai dan selaras dengan lingkungan sekitar, ada kecenderungan untuk menyesuaikan diri. Mungkin karena ingin menghindari perbincangan. Mungkin karena merasa lebih nyaman jika tidak tampak berbeda. Atau mungkin sekadar mengikuti kebiasaan yang sudah mengakar.

Di sinilah pertanyaan sederhana itu menemukan relevansinya: apakah kebersamaan selalu harus berarti seragam?
Ramai memang menghadirkan semangat. Ia memberi rasa kebersamaan yang luas dan tampak nyata. Namun nilai memberi kedalaman. Ia menuntut kesadaran, keteguhan, dan rasa memiliki yang tumbuh dari dalam. Menjadi bagian dari sebuah rumah tidak hanya berarti berada di dalamnya, tetapi juga memahami fondasi dan arah yang disepakati bersama.

Sebuah rumah dibangun dengan prinsip. Ia berdiri di atas fondasi yang dirancang agar kokoh. Jika setiap bagian bebas menentukan arah sendiri, perlahan bangunan itu kehilangan keselarasan. Begitu pula dengan keputusan bersama dalam sebuah organisasi atau komunitas. Ia bukan sekadar hasil rapat, melainkan cerminan identitas yang dijaga dari waktu ke waktu.

Selisih satu hari memang bukan perkara besar. Ibadah tetap sah, niat tetap bernilai. Namun cara kita memaknai keputusan bersama sering kali mencerminkan seberapa dalam rasa memiliki itu tumbuh. Apakah kita berdiri karena keyakinan yang dipahami, atau karena kebiasaan yang diikuti? Apakah kita berjalan karena arah yang diyakini, atau karena arus yang terasa paling ramai?

Ramadan bukan hanya mengajarkan tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga melatih kejujuran pada diri sendiri. Kejujuran untuk bertanya: di mana posisi kita ketika prinsip dan suasana tidak selalu sejalan? Mampukah kita tetap tenang pada arah yang telah disepakati, tanpa merasa perlu merendahkan pilihan orang lain?

Pada akhirnya, bukan tanggal yang akan paling lama diingat. Melainkan sikap kita ketika menghadapinya. Dalam hal-hal yang tampak sederhana itulah sering kali karakter diuji. Dan mungkin, justru di sanalah letak keindahannya: ketika nilai tetap dijaga, meski suasana tidak selalu sama.