![]() |
| Penampakan bulan sabit yang tampak semakin besar di ufuk barat pada malam hari, memunculkan perbincangan mengenai hitungan tanggal Ramadan akibat perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah |
Secara astronomis, bulan memang terus bertambah fase cahayanya sejak terjadi ijtimak. Setiap selisih satu hari akan membuat sabit terlihat lebih tebal. Maka, wajar apabila mereka yang memulai puasa lebih awal melihat bulan tampak “lebih besar” dibanding perkiraan sebagian orang. Fenomena langit bekerja dalam hukum yang pasti dan teratur.
Persoalannya bukan pada siapa yang paling benar, melainkan pada metode yang digunakan. Muhammadiyah, misalnya, menggunakan hisab hakiki wujudul hilal dalam menetapkan awal bulan. Sementara pemerintah mengombinasikan hisab dan rukyat dengan kriteria tertentu. Keduanya memiliki landasan argumentasi ilmiah dan keagamaan yang tidak lahir secara serampangan.
Di titik inilah kedewasaan umat diuji. Perbedaan awal puasa bukanlah hal baru dalam sejarah Islam. Ia merupakan bagian dari ijtihad, yakni upaya sungguh-sungguh para ahli dalam memahami dalil dan realitas. Ijtihad membuka ruang kemungkinan berbeda, tetapi tidak membuka ruang untuk saling menegasikan.
Bulan yang membesar seharusnya tidak membesarkan ego. Ia justru mengajarkan ketenangan. Cahaya yang perlahan bertambah itu seolah mengingatkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari keramaian suara, melainkan dari keteguhan pada prinsip yang diyakini.
Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Jika lapar dan dahaga saja mampu kita tahan, semestinya perbedaan satu hari pun dapat kita sikapi dengan kepala dingin. Ukuran keberhasilan puasa bukan terletak pada seragamnya tanggal, melainkan pada bertambahnya takwa dan luasnya dada dalam menerima perbedaan.
Langit telah menjalankan hukumnya dengan tertib. Kini, tugas kitalah menjaga bumi tetap teduh dengan sikap yang arif.

