Dalam maklumat tersebut dijelaskan secara rinci waktu setiap fase gerhana untuk wilayah WIB, WITA, dan WIT. Gerhana sebagian diperkirakan mulai pukul 16.50 WIB, gerhana total dimulai pukul 18.04 WIB, dan puncak gerhana terjadi pukul 18.33 WIB. Seluruh rangkaian peristiwa ini berakhir sekitar pukul 20.17 WIB (untuk wilayah WIB).
Ketepatan waktu yang diumumkan menunjukkan bahwa gerhana bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba tanpa perhitungan, melainkan fenomena astronomis yang dapat dihitung secara ilmiah. Ilmu falak dan astronomi modern mampu memprediksi posisi matahari, bumi, dan bulan dengan tingkat akurasi tinggi, bahkan hingga hitungan detik.
Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi permukaan bulan. Karena pergerakan benda-benda langit mengikuti hukum yang tetap, maka peristiwa ini dapat diproyeksikan jauh hari sebelumnya melalui metode hisab dan perhitungan astronomi.
Majelis Tarjih dan Tajdid juga mengimbau umat Islam untuk melaksanakan salat gerhana (salat khusuf), memperbanyak doa, zikir, dan sedekah selama berlangsungnya fenomena tersebut. Waktu pelaksanaan salat dimulai sejak gerhana sebagian hingga gerhana berakhir atau bulan terbenam.
Fenomena gerhana bulan total ini menjadi pengingat bahwa alam semesta berjalan dalam ketentuan dan keteraturan. Perhitungan ilmiah yang akurat tidak mengurangi nilai spiritualnya, justru memperlihatkan betapa teraturnya sistem kosmik yang dapat dipelajari manusia.
Dengan demikian, gerhana bukan sekadar peristiwa langit yang menakjubkan, tetapi juga bukti bahwa ilmu pengetahuan dan keyakinan dapat berjalan beriringan dalam memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan.

