Kegiatan tersebut menghadirkan Joko Setiyono sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia menyoroti pentingnya rekonsiliasi sosial sebagai prasyarat spiritualitas Ramadan dengan merujuk tafsir Surah Al-Fāṭir ayat 32 serta hadis tentang ishlah (perdamaian).
Ia menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat pilihan, tetapi memiliki tingkatan spiritual yang berbeda, yakni golongan yang menzalimi diri sendiri, golongan pertengahan, dan golongan yang berlomba dalam kebaikan. Ramadan, menurutnya, menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas spiritual agar mampu masuk dalam golongan yang berlomba dalam kebaikan.
Selain itu, ia menegaskan bahwa konflik sosial, permusuhan, serta terputusnya silaturahmi dapat menghambat ketenangan hati dan kualitas ibadah. Rekonsiliasi sosial dipandang sebagai kewajiban moral yang penting dilakukan sebelum memasuki Ramadan agar hati lebih bersih dan siap menerima ampunan Allah Swt.
Kajian juga menekankan pentingnya silaturahmi sebagai sarana memperkuat ukhuwah, melapangkan rezeki, serta meningkatkan kualitas ibadah. Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, tetapi juga momentum transformasi sosial dan spiritual melalui perbaikan hubungan antarsesama.
Melalui kegiatan ini, PRA dan PRM Tumbrasanom berharap terjalin kebersamaan yang semakin erat di tengah masyarakat serta tumbuh kesadaran untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, semangat ibadah, dan kepedulian sosial yang lebih kuat.

