(www.unplash.com)

OlehAmizy Nova Airul Ayunda Kurniawan

Kedungademmu.id
Ramadhan selalu hadir sebagai momen istimewa bagi umat Islam. Bukan hanya karena di dalamnya terdapat kewajiban puasa sebagai salah satu rukun Islam, tetapi juga karena bulan ini menjadi ruang refleksi yang mengajak manusia meninjau kembali arah hidupnya. Namun, tidak jarang Ramadhan disambut sekadarnya, bahkan semangatnya hanya terasa pada awal bulan. Padahal, tidak semua orang diberi kesempatan untuk kembali bertemu Ramadhan. Dari kesadaran itulah muncul pertanyaan sederhana namun mendalam: bagaimana jika Ramadhan kali ini adalah yang terakhir?

Menjelang Ramadhan, sering terdengar pesan dalam khutbah atau nasihat keagamaan bahwa orang yang meninggal kemarin mungkin masih berharap bisa bertemu Ramadhan tahun ini. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sarat makna. Hidup sering berjalan tanpa disadari, hingga kita baru memahami nilai sebuah kesempatan setelah ia berlalu. Ramadhan yang selama ini datang setiap tahun pun seharusnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang pasti akan selalu kita temui.

Sering kali Ramadhan dipahami hanya sebagai siklus tahunan. Padahal, Ramadhan sesungguhnya adalah kesempatan: kesempatan memperbaiki diri, memperdalam ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah Swt serta sesama manusia. Kesadaran ini menjadikan Ramadhan lebih dari sekadar tradisi; ia adalah momentum spiritual yang layak dijalani dengan kesungguhan.

Puasa, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183), bertujuan membentuk ketakwaan. Ketakwaan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri: menjaga ucapan, mengendalikan emosi, serta menahan dorongan hawa nafsu. Dari hal-hal sederhana inilah karakter dan kedewasaan spiritual perlahan terbentuk. Ramadhan mengajarkan bahwa disiplin dalam keseharian dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Selain dimensi spiritual, Ramadhan juga menegaskan pentingnya kepedulian sosial. Rasa lapar dan dahaga yang dirasakan saat berpuasa dapat menumbuhkan empati kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Dari sinilah muncul dorongan untuk berbagi melalui zakat, sedekah, atau bantuan sosial lainnya. Ramadhan pun menjadi sarana mempererat solidaritas dan memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat.

Mungkin tantangan terbesar bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjaga agar Ramadhan tidak berlalu tanpa makna. Sering kali bulan ini terasa cepat datang dan lebih cepat berlalu, sementara perubahan diri belum terasa signifikan. Karena itu, pertanyaan “bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku?” seharusnya bukan menimbulkan ketakutan, melainkan menjadi pengingat agar setiap Ramadhan dijalani dengan kesadaran, kesungguhan, dan harapan menjadi pribadi yang lebih baik.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menuntaskan ibadah selama satu bulan, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai yang dipelajari tetap hidup setelahnya. Jika benar ini Ramadhan terakhir, setidaknya ia telah dijalani dengan penuh makna, kesadaran, dan usaha terbaik untuk mendekat kepada Allah serta peduli kepada sesama.