![]() |
| Ketua Umum PC IPM Kedungadem Amizy Nova Airul Ayunda Kurniawan, salah satu peserta Kajian Ramadan 1447 Hijriah PCM Kedungadem (Istimewa/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Pelaksanaan Kajian Ramadan 1447 Hijriah di lingkungan Muhammadiyah Kedungadem tidak hanya menjadi forum penguatan ideologi bagi pimpinan dan warga Persyarikatan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai perjuangan bagi kader muda Muhammadiyah.
Kehadiran pelajar Muhammadiyah sebagai peserta dalam kegiatan ini menunjukkan adanya kesinambungan proses kaderisasi yang terus dijaga lintas generasi.
Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) Kedungadem, Amizy Nova Airul Ayunda Kurniawan yang hadir sebagai peserta menilai kegiatan tersebut sangat relevan bagi kader muda di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
“Menurut saya, kegiatan ini sangat baik dan memberikan penguatan bagi kami sebagai kader, khususnya generasi muda,” ujarnya di tengah rangkaian acara.
Pandangan tersebut mencerminkan kegelisahan sekaligus harapan kader muda Muhammadiyah dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan teknologi yang berkembang sangat cepat.
Di tengah realitas tersebut, pelajar Muhammadiyah dituntut tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga matang secara ideologis dan mental perjuangan.
Amizy menyoroti salah satu materi yang menurutnya paling menarik, yakni tentang kepemimpinan profetik dan militansi kader di era disrupsi. Ia menilai, tema tersebut menjadi tantangan nyata yang harus dipahami oleh pelajar hari ini.
Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta derasnya arus informasi, kader IPM dituntut tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga memiliki fondasi ideologis yang kuat. Kepemimpinan profetik—yang berlandaskan nilai keteladanan, kejujuran, dan keberpihakan pada kemaslahatan—dipandang sebagai model kepemimpinan yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut.
“Materi-materinya saling melengkapi dan mengingatkan kembali tentang pentingnya ideologi, kepemimpinan, serta komitmen dalam berorganisasi,” tambahnya.
Menurutnya, kesinambungan materi dalam Kajian Ramadan tidak hanya memperkaya wawasan keislaman dan ke-Muhammadiyahan, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat agar kader muda tidak tercerabut dari nilai dasar perjuangan Persyarikatan.
Hal ini menjadi penting di tengah kecenderungan pragmatisme dan melemahnya ikatan ideologis generasi muda terhadap organisasi.
Bagi Nova—sapaan akrab mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya ini, kegiatan seperti ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi momentum strategis untuk menjaga semangat perjuangan kader muda Muhammadiyah.
Ia menegaskan bahwa penguatan ideologi dan militansi menjadi kunci agar gerakan pelajar tetap berada pada rel perjuangan Persyarikatan.
Sebagai organisasi otonom yang menjadi ladang kaderisasi, IPM memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi penerus Muhammadiyah. Oleh karena itu, forum-forum penguatan seperti Kajian Ramadan dinilai sangat penting untuk memastikan arah gerakan tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.
“Kegiatan seperti ini menurut saya penting untuk menjaga semangat dan arah perjuangan Muhammadiyah ke depan,” pungkasnya.
Kajian Ramadan 1447 H ini menjadi bukti bahwa sinergi antara pimpinan cabang dan organisasi otonom terus terjalin. Tidak hanya memperkuat struktur organisasi, tetapi juga meneguhkan komitmen kader muda untuk terus berkontribusi bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan.

