![]() |
| Thohir Luth, saat menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Profetik dalam Muhammadiyah pada kegiatan kajian Ramadan di PCM Kedungadem (Istimewa/kedungademmu.id) |
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kepemimpinan profetik bersumber dari keteladanan Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin umat. Muhammadiyah, menurutnya, harus senantiasa hadir memberikan manfaat nyata bagi sesama, baik dalam aspek keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.
“Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang menghadirkan kemaslahatan. Ukurannya bukan kekuasaan, melainkan sejauh mana memberi manfaat bagi umat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya spirit jihad fisabilillah dalam arti luas, yakni kesungguhan berjuang di jalan Allah melalui amal usaha, pelayanan sosial, pendidikan, dan dakwah pencerahan. Kekayaan spiritual menjadi fondasi utama, terutama dalam menjaga komitmen terhadap amal usaha Muhammadiyah.
Salah satu penegasan yang mengundang perhatian peserta adalah pernyataannya mengenai keikhlasan. “Pemimpin Muhammadiyah tidak dibayar, tetapi terpanggil,” ujarnya. Menurutnya, menjadi pemimpin dalam persyarikatan menuntut keikhlasan, pengorbanan, serta komitmen moral yang tinggi.
Dalam konteks tantangan era digital, ia mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak terjebak dalam budaya saling menjatuhkan di media sosial. Sikap demikian, menurutnya, bukanlah teladan Rasulullah. Kepemimpinan profetik justru mengajarkan untuk menutup aib sesama dan mengedepankan husnuzan (prasangka baik).
Ia mengutip Surah Al-Fath ayat 29 sebagai gambaran kepemimpinan Rasulullah saw. yang tegas terhadap kebatilan, namun penuh kasih sayang terhadap sesama mukmin. Nilai kasih sayang itulah yang harus dirawat dalam gerakan Muhammadiyah, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung keteladanan K.H Ahmad Dahlan yang tetap menyampaikan kebenaran dengan kelembutan dan kesabaran, bahkan ketika mendapat tudingan dan penolakan. Menurutnya, menyampaikan kebenaran harus dilakukan dengan merawat kasih sayang, bukan dengan kebencian.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kepemimpinan Muhammadiyah dijalankan secara kolektif-kolegial. Prinsip ini menjaga agar keputusan tidak bersifat personal, melainkan hasil musyawarah yang mengedepankan kebijaksanaan bersama.
Materi tersebut menjadi penguatan ideologis sekaligus refleksi mendalam bagi para peserta untuk menghadirkan kepemimpinan yang berintegritas, berilmu, dan berpihak kepada umat.

