Kegiatan yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur bersama PDM Kabupaten Jember ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan tokoh akademik. Kajian tersebut mengangkat isu ekoteologi sebagai refleksi atas tanggung jawab umat manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Dalam sambutannya, Sukadiono menegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan semata isu teknis, melainkan persoalan teologis yang berkaitan langsung dengan kesadaran keimanan. Menurutnya, manusia sebagai khalifah di bumi memiliki mandat ilahiah untuk merawat, bukan merusak.
“Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini merupakan akibat dari krisis moral dan krisis spiritual. Karena itu, pendekatan ekoteologi menjadi penting untuk meneguhkan kembali kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum tepat untuk memperkuat komitmen spiritual sekaligus komitmen ekologis. Puasa, lanjutnya, melatih pengendalian diri, kesederhanaan, serta empati sosial, yang semuanya relevan dalam membangun peradaban berkelanjutan.
Kajian ini diikuti oleh kader, akademisi, dan masyarakat umum yang antusias menyimak pemaparan para pemateri. Selain memperdalam pemahaman keagamaan, forum tersebut juga menjadi ruang dialog ilmiah mengenai tantangan lingkungan di era modern.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa tugas kekhalifahan tidak berhenti pada aspek ritual, melainkan mencakup tanggung jawab nyata dalam menjaga keseimbangan alam demi keberlanjutan generasi mendatang.

