(www.unplash.com)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Amma ba’du,

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadan, bulan ibadah, bulan pengampunan, dan bulan pembinaan jiwa. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah qiyamu Ramadan 

Keistimewaan yang Allah berikan kepada orang yang berpuasa, yaitu adanya dua kegembiraan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam hadis sahih riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Artinya:
Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.”

Pertama Kegembiraan Saat Berbuka

Kegembiraan pertama adalah ketika tiba waktu berbuka. Ini bukan sekadar kegembiraan karena makanan dan minuman. Lebih dari itu, ia adalah wujud rasa syukur dan kebanggaan karena telah menunaikan perintah Allah berupa puasa.

Ketika azan Magrib berkumandang, kita mengakhiri puasa dengan doa yang diajarkan Rasulullah saw.:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya:
Telah hilang rasa haus, telah basah kerongkongan, dan telah ditetapkan pahala, insyaallah.”

Doa ini bukan sekadar kalimat, tetapi pengakuan bahwa semua yang kita lakukan semata-mata karena Allah.

Kegembiraan berbuka juga bermakna bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk kembali kepada fitrah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-A‘raf ayat 172:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ

Artinya:
Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar, kami bersaksi.”

Puasa melatih kita untuk kembali pada pengakuan itu: bahwa kita adalah hamba dan Allah adalah Rabb kita.

Kedua Kegembiraan Saat Bertemu dengan Tuhan

Kegembiraan kedua adalah ketika bertemu dengan Allah Swt. Kelak di akhirat, orang yang berpuasa akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar daripada sekadar berbuka.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:
Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Jamaah sekalian,

Dosa yang menumpuk itulah yang sering menjadi penghalang seorang hamba untuk merasakan kedekatan dengan Allah. Seolah-olah menjadi pemutus arus, sehingga ibadah terasa hambar dan tidak membekas.

Namun ketika Allah mengampuni, hati menjadi bersih. Salat menjadi khusyuk. Al-Qur’an terasa menyentuh. Zikir menenangkan. Aktivitas sehari-hari pun disertai kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Inilah makna kegembiraan bertemu dengan Tuhan—bahagia karena datang kepada-Nya dalam keadaan bersih dan diterima.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah sarana penyucian jiwa dan penguatan iman. Mari kita jaga puasa dengan keikhlasan, perbanyak istigfar, dan perbaiki kualitas ibadah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang merasakan dua kegembiraan itu: bahagia saat berbuka karena taat, dan bahagia saat bertemu dengan-Nya karena diampuni.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.