Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Memasuki pertengahan Ramadan, semangat ibadah kita semestinya tidak menurun, tetapi justru semakin menguat. Karena salah satu ciri keberhasilan puasa bukan hanya meningkatnya ibadah ritual, tetapi juga tumbuhnya kepedulian sosial yang nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Ramadan bukan bulan yang mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang sibuk dengan diri sendiri. Justru sebaliknya, Ramadan mendidik kita agar peka terhadap keadaan sekitar. Ketika kita merasakan lapar dan haus, Allah sedang mengajarkan empati. Ketika kita diperintahkan menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah, Allah sedang membentuk karakter sosial dalam diri kita.
Allah Swt. berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian dari apa yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)
Ayat ini mengajarkan bahwa kebajikan sejati bukan hanya dalam bentuk ucapan atau niat baik, tetapi dalam bentuk pengorbanan dan pemberian yang nyata. Memberi dari apa yang kita cintai menunjukkan bahwa iman telah menyentuh hati dan menggerakkan tangan.
Jamaah sekalian,
Kepedulian sosial dalam Ramadan tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni. Ia harus berbasis amal nyata. Amal nyata berarti ada tindakan konkret yang dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Misalnya, membantu tetangga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu, atau meringankan beban keluarga yang sedang tertimpa musibah.
Ramadan adalah momentum memperkuat solidaritas. Kita diajarkan bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh; jika satu bagian sakit, maka bagian lain ikut merasakan. Karena itu, orang yang benar-benar berpuasa dengan baik tidak akan tenang jika di sekitarnya masih ada yang kelaparan atau kesulitan.
Kepedulian sosial juga berarti menjauhi sikap individualistis. Jangan sampai ibadah kita banyak, tetapi hati kita tertutup dari penderitaan orang lain. Jangan sampai kita rajin tarawih, tetapi enggan membantu ketika diminta pertolongan. Puasa yang benar melahirkan pribadi yang ringan tangan dan lapang dada.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali kita menemukan kesenjangan. Ada yang hidup berkecukupan, ada pula yang serba kekurangan. Ramadan hadir untuk menyeimbangkan. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi instrumen pemerataan dan keadilan sosial.
Kepedulian sosial juga dapat diwujudkan melalui sikap sederhana. Ramadan seharusnya tidak menjadi bulan pemborosan. Jangan sampai meja berbuka dipenuhi makanan berlebihan sementara di sekitar kita masih banyak yang tidak memiliki makanan layak. Kesederhanaan adalah bagian dari akhlak puasa.
Selain itu, kepedulian sosial juga mencakup menjaga keharmonisan. Menghindari pertengkaran, tidak menyebarkan kabar bohong, serta menjaga persaudaraan adalah bentuk kontribusi sosial yang sangat penting. Kadang-kadang, senyum, sapaan yang baik, dan doa tulus lebih bermakna daripada harta yang banyak.
Jamaah yang berbahagia,
Sebagai umat yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin, kita dipanggil untuk menghadirkan manfaat di mana pun berada. Ramadan adalah momentum memperkuat karakter sebagai Muslim yang mencerahkan. Ibadah yang kita lakukan di masjid harus berdampak pada sikap kita di rumah, di tempat kerja, dan di lingkungan masyarakat.
Mari kita bertanya pada diri masing-masing: sudahkah Ramadan tahun ini membuat kita lebih peduli? Sudahkah tangan kita lebih sering memberi? Sudahkah hati kita lebih mudah tergerak melihat kesulitan orang lain?
Jika jawabannya belum, maka masih ada waktu untuk memperbaiki. Pertengahan Ramadan adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kualitas amal sosial kita. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu lapang untuk membantu. Bahkan doa dan perhatian yang tulus pun adalah bentuk kepedulian.
Hadirin sekalian,
Semoga Allah Swt. menjadikan puasa kita bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga energi untuk membangun kepedulian sosial yang berbasis amal nyata. Semoga Ramadan ini melahirkan pribadi-pribadi yang bukan hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial.
Mari kita perbanyak sedekah, kita kuatkan ukhuwah, dan kita jadikan Ramadan sebagai bulan berbagi dan menebar manfaat.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperoleh kebajikan yang sempurna.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

