(www.unplash.com)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Memasuki bulan Ramadan, kita semakin menyadari bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Puasa juga menuntut kita menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi nilai ibadah, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik.

Sering kali kita merasa sudah berpuasa dengan sempurna karena tidak makan dan minum. Namun tanpa disadari, lisan kita masih mudah berkata kasar, menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, atau membicarakan keburukan orang lain. Padahal, lisan adalah salah satu ujian terbesar dalam kehidupan.

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” Hadis ini mengingatkan kita bahwa kualitas puasa sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga perilaku, termasuk ucapan.

Hadirin sekalian,

Lisan adalah nikmat besar dari Allah. Dengan lisan kita berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menyampaikan kebaikan. Tetapi dengan lisan pula seseorang bisa melukai hati, memecah persaudaraan, dan menimbulkan fitnah.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (al-Quran surah Qaf ayat 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dipertanggungjawabkan. Tidak ada yang sia-sia. Semua tercatat.

Di era media sosial saat ini, menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan. Jari-jari kita bisa menjadi perpanjangan lisan. Komentar yang kasar, unggahan yang menyinggung, atau penyebaran berita tanpa tabayyun bisa merusak pahala puasa yang sedang kita bangun.

Jamaah yang berbahagia,

Ramadan adalah bulan latihan pengendalian diri. Ketika emosi meningkat karena lapar dan lelah, di situlah ujian sebenarnya. Mampukah kita tetap tenang? Mampukah kita memilih diam daripada membalas dengan kemarahan?

Rasulullah Saw mengajarkan, jika seseorang mengajak bertengkar saat kita berpuasa, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Ini bukan sekadar ucapan, tetapi pengingat bagi diri sendiri agar tidak larut dalam emosi.

Menjaga lisan bukan berarti kita tidak boleh berbicara. Justru sebaliknya, gunakan lisan untuk memperbanyak kebaikan: berdzikir, membaca Al-Qur’an, menasihati dengan lembut, dan menyemangati sesama.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan hari Ramadan ini sebagai momentum memperbaiki ucapan kita. Kurangi perkataan yang sia-sia. Hindari ghibah dan fitnah. Perbanyak kalimat thayyibah yang menenangkan hati.

Jika kita mampu menjaga lisan, maka kita telah menjaga sebagian besar akhlak kita. Sebab banyak kerusakan berawal dari kata-kata yang tidak terkontrol.

Semoga Allah Swt. membimbing kita untuk senantiasa berkata baik atau memilih diam. Semoga puasa kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan akhlak mulia dalam setiap ucapan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh