Mengusung konsep diskusi santai di warung kopi, forum tersebut menghadirkan suasana cair namun tetap substansial. Sekitar 50 peserta hadir dari berbagai latar belakang, mulai dari komunitas pemuda, akademisi, hingga pelajar. Keberagaman peserta membuat dialog berlangsung dinamis dengan perpaduan perspektif akademik dan pengalaman lapangan.
Hadir sebagai narasumber Muhammad Ali Ridho, (Tenaga Ahli Anggota DPR RI), Agus Supadmo, (Direktur Umum Perseroda PITS Tangerang Selatan), serta Muhammad Hilmi Zuhdi, (Founder Muda Bersabda). Diskusi dipandu Nirwan Dwi Putra, Ketua PAC TIDAR Ciputat Timur, sebagai moderator.
Dalam paparannya, Agus Supadmo menegaskan bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk keseharian pemuda. Ia menyinggung dinamika politik lokal serta pentingnya produktivitas generasi muda dalam lingkungan sosial.
Menurutnya, politik merupakan seni meraih kekuasaan melalui proses demokrasi. Jabatan publik seperti presiden, legislatif, maupun kepala daerah dipilih rakyat sehingga memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Kontribusi pemuda dalam politik bisa dimulai dari banyak pintu, mulai menjadi pemilih aktif dan kritis, bergabung dalam partai politik, hingga menjadi pegiat kebijakan publik,” ujarnya.
Muhammad Ali Ridho menambahkan bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sarana mencapai tujuan yang lebih besar. Ia mengutip pemikiran filsuf Yunani Plato yang memandang politik sebagai instrumen distribusi keadilan dalam masyarakat. Ia juga menyoroti sikap skeptis sebagian pemuda terhadap partai politik, namun mengingatkan agar sikap kritis tidak berubah menjadi apatis.
“Jika skeptis terhadap partai, tetaplah belajar politik melalui berbagai ruang, termasuk organisasi kepemudaan partai,” jelasnya.
Sementara itu, Muhammad Hilmi Zuhdi menyoroti hubungan strategis antara pemerintah, partai politik, dan pemuda. Ia menilai politik sangat menentukan realitas hidup generasi muda, termasuk isu ketenagakerjaan dan kesejahteraan.
Hilmi memaparkan hasil survei terhadap 49 ribu anak muda yang menunjukkan masih banyak keresahan generasi muda yang belum tersalurkan. Ia juga menyinggung adanya jarak komunikasi antargenerasi yang perlu dijembatani.
Menurutnya, pemuda perlu memiliki tiga modal utama untuk berdaya dalam politik, yaitu modal sosial, intelektual, dan finansial. Ia juga mendorong penerapan meritokrasi dalam organisasi serta peningkatan partisipasi politik aktif generasi muda. Data Lingkaran Survei Indonesia mencatat sekitar 53 persen suara pemuda berkontribusi dalam Pemilu 2019, menunjukkan besarnya kekuatan elektoral mereka.
Sebagai moderator, Nirwan Dwi Putra menegaskan pentingnya keterlibatan pemuda dalam ruang politik. Ia berharap forum seperti Ngopi Bermisi dapat membuka dialog yang inklusif dan membumi.
“Kami ingin pemuda tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut memberi dampak karena kebijakan politik selalu bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Diskusi yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut berjalan dinamis dengan sesi tanya jawab interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan pandangan kritis yang disampaikan sepanjang forum.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap ruang diskusi informal seperti warung kopi dapat menjadi media efektif menumbuhkan kesadaran politik pemuda. Dari tempat sederhana, percakapan besar tentang masa depan daerah dan bangsa diharapkan terus berkembang seiring meningkatnya partisipasi generasi muda dalam demokrasi.

