Puasa Syariat: Sah Secara Fikih
Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri pada siang hari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dari sudut pandang fikih, selama seseorang mampu menahan tiga hal tersebut serta memenuhi syarat dan rukun puasa, maka puasanya sah.
Puasa jenis ini memiliki waktu tertentu (muwaqqat), seperti puasa wajib pada bulan Ramadan, maupun puasa sunah seperti Senin–Kamis, puasa Daud, dan Ayyamul Bidh. Berbuka puasa syariat ditandai dengan masuknya waktu magrib.
Namun, dalam praktiknya, seseorang bisa saja puasanya sah secara hukum, tetapi nilai spiritualnya berkurang karena masih melakukan dosa seperti menggunjing, marah, sombong, atau kikir. Hal inilah yang diingatkan Rasulullah saw. dalam hadis riwayat :
رُبَّ صَائِÙ…ٍ Ù„َÙŠْسَ Ù„َÙ‡ُ Ù…ِÙ†ْ صِÙŠَامِÙ‡ِ Ø¥ِÙ„َّا الْجُوعُ، Ùˆَرُبَّ Ù‚َائِÙ…ٍ Ù„َÙŠْسَ Ù„َÙ‡ُ Ù…ِÙ†ْ Ù‚ِÙŠَامِÙ‡ِ Ø¥ِÙ„َّا السَّÙ‡َرُ
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tidak mendapatkan dari bangun malamnya kecuali begadang.”
Hadis ini menjadi peringatan bahwa puasa tidak cukup hanya sah secara lahiriah, tetapi harus berdampak pada akhlak.
Puasa Tarekat: Menjaga Lahir dan Batin
Berbeda dengan puasa syariat, puasa tarekat adalah menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang diharamkan dan dilarang. Bukan hanya mulut yang berpuasa, tetapi juga mata, telinga, tangan, kaki, bahkan hati.
Puasa tarekat menuntut seseorang untuk menjauhi sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, riya, kikir, dan dengki. Setiap perbuatan buruk secara moral akan merusak nilai puasa pada tingkatan ini. Puasa tarekat tidak dibatasi waktu tertentu (muabbad fi jami‘i ‘umrih), melainkan berlangsung sepanjang hayat. Jika puasa syariat berbuka saat magrib, maka puasa tarekat “berbuka” ketika seseorang meninggal dunia.
Dengan demikian, puasa tarekat adalah proses penyucian diri secara terus-menerus. Ia mendidik jiwa agar tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang tidak pantas secara akhlak.
Perbedaan Pokok Puasa Syariat dan Puasa Tarekat
Pertama Dari Segi Waktu
Puasa syariat memiliki batas waktu tertentu, sedangkan puasa tarekat berlangsung sepanjang hidup.
Kedua Dari Segi Pembatal
Dalam puasa syariat, yang membatalkan secara hukum adalah makan, minum, dan berhubungan suami istri di siang hari.Dalam puasa tarekat, perbuatan dosa dan sifat tercela merusak nilai puasa secara spiritual.
Ketiga Dari Segi Wilayah Pengendalian
Puasa syariat berkaitan dengan pengendalian nafsu amarah (wilayah dada). Puasa tarekat berkaitan dengan pembersihan hati (qalb) dari nafsu lawwamah yang mencela dan menyesali.
Penutup
Puasa syariat adalah fondasi. Tanpanya, ibadah tidak sah. Namun, puasa tarekat adalah penyempurna yang mengangkat derajat manusia dari sekadar menahan lapar menjadi pribadi yang bersih lahir dan batin.
Karena itu, Ramadan bukan hanya momentum menahan makan dan minum, melainkan juga kesempatan mendidik hati agar terbiasa hidup dalam kesucian akhlak. Puasa sejati adalah ketika lapar melahirkan sabar, dahaga melahirkan empati, dan ibadah melahirkan ketakwaan.

