![]() |
| Ilustrasi (Pexels.com/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Ramadan selalu menjadi bulan yang dinantikan umat Islam. Selain kewajiban berpuasa, bulan suci ini juga dihidupkan dengan berbagai ibadah sunnah, salah satunya adalah salat Tarawih. Ibadah yang dilaksanakan pada malam hari ini menjadi ciri khas Ramadan.
Meski telah menjadi amalan rutin setiap tahun, pemahaman mengenai salat Tarawih—baik dari segi hukum, keutamaan, pelaksanaan berjamaah, hingga jumlah rakaat—perlu terus dilandaskan pada tuntunan Rasulullah saw. sebagaimana tercantum dalam hadis-hadis qiyam Ramadan.
Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pelaksanaan salat Tarawih, diantaranya:
Salat Tarawih Bersifat Sunah
Salat Tarawih bukanlah ibadah wajib, melainkan sunah. Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a.:
“Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummul Mukminin r.a., bahwa Rasulullah saw. salat pada suatu malam di masjid, lalu beberapa orang ikut salat bersama beliau. Pada malam berikutnya beliau salat lagi sehingga jamaah semakin banyak. Pada malam ketiga atau keempat mereka kembali berkumpul, namun Rasulullah saw. tidak keluar menemui mereka. Ketika pagi tiba, beliau bersabda: “Aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku keluar menemui kalian kecuali karena aku khawatir salat ini akan diwajibkan atas kalian.” Dan peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan. (HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa Rasulullah saw. sengaja tidak terus-menerus memimpin salat Tarawih berjamaah agar ibadah tersebut tidak berubah status menjadi wajib bagi umatnya.
Keutamaan Qiyam Ramadan
Meskipun tidak wajib, salat Tarawih memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah saw. memberikan motivasi kuat kepada umatnya untuk menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah. Dalam hadis disebutkan:
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. menganjurkan untuk melaksanakan qiyam Ramadan tanpa memerintahkannya dengan perintah yang keras. Kemudian beliau bersabda: “Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa qiyam Ramadan—yang di dalamnya termasuk salat Tarawih—menjadi sarana penghapus dosa apabila dilakukan dengan keikhlasan dan penuh keimanan.
Rasulullah Tidak Salat Tarawih Berjamaah Setiap Malam
Rasulullah saw. tidak selalu melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah sepanjang bulan Ramadan. Dalam riwayat Abu Dzar r.a. disebutkan:
“Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a., ia berkata: Kami berpuasa bersama Rasulullah saw di bulan Ramadan. Beliau tidak salat malam bersama kami hingga tersisa tujuh malam… Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang jika salat bersama imam sampai selesai, maka dicatat baginya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menjadi dasar keutamaan mengikuti salat Tarawih berjamaah hingga selesai bersama imam, meskipun Rasulullah saw. tidak melakukannya setiap malam.
Jumlah Rakaat Salat Tarawih
Perbedaan jumlah rakaat salat Tarawih sering ditemukan di tengah masyarakat. Namun, hadis sahih dari Aisyah r.a. memberikan gambaran jelas mengenai praktik Rasulullah saw. Dalam hadis tersebut dijelaskan:
“Rasulullah saw. tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi rujukan bahwa salat malam Rasulullah saw.—termasuk qiyam Ramadan—dilaksanakan sebanyak delapan rakaat dan ditutup dengan tiga rakaat witir.
Waktu Pelaksanaan Salat Tarawih
Salat Tarawih dilaksanakan setelah salat Isya hingga menjelang waktu Subuh. Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah melaksanakan salat malam pada waktu yang cukup larut, hingga para sahabat khawatir tidak mendapatkan waktu sahur.
Hal ini menunjukkan bahwa waktu salat Tarawih bersifat longgar dan dapat disesuaikan dengan kondisi jamaah.
Pelaksanaan Tarawih setelah Isya secara berjamaah tetap menjadi praktik yang banyak dilakukan karena memberikan kemudahan sekaligus memperkuat syiar Islam di bulan Ramadan.
Dengan memahami tuntunan hadis-hadis Nabi Muhammad saw tentang qiyam Ramadan, umat Islam diharapkan dapat melaksanakan salat Tarawih dengan pemahaman yang benar dan sikap saling menghormati terhadap perbedaan praktik yang ada.
Yang terpenting, salat Tarawih menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah yang khusyuk.

