![]() |
| Ilustrasi (Unsplash.com/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini berdasarkan hasil perhitungan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem penanggalan Islam terpadu yang menggunakan satu kriteria kalender di seluruh dunia.
Penetapan awal Ramadan tersebut diumumkan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, yang menjelaskan bahwa KHGT hadir sebagai solusi untuk mengatasi problematika perbedaan hari besar Islam yang kali ini terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, penggunaan satu kriteria global akan memperkuat keterpaduan umat Islam dalam penentuan awal bulan hijriah.
Di balik penetapan oleh Muhammadiyah ini, terkuak sebuah fakta sejarah menarik: jauh sebelum teknologi komputasi modern berkembang, seorang ahli falak dari Mesir pada abad ke-19 dikenal telah memprediksi tanggal awal Ramadan 1447 H dengan akurasi yang luar biasa.
Tokoh di balik prediksi ini adalah Muhammad Mukhtar Pasha, seorang cendekiawan dan militer Mesir, yang menulis karya monumental berjudul Al-Tawfīqāt al-Ilhāmiyyah fī al-Muqāranat al-Tawārīkh al-Hijriyyah bi al-Sinīn al-Ifranjiyyah wa al-Qibṭiyyah. Kitab ini menyajikan sinkronisasi sistematis antara kalender Hijriah dan kalender Syamsiyah (Masehi) serta kalender Mesir kuno, memuat tabel konversi tanggal yang lengkap hingga tahun 1500 H.
![]() |
| Potongan kitab Al-Tawfīqāt al-Ilhāmiyyah fī al-Muqāranat al-Tawārīkh al-Hijriyyah bi al-Sinīn al-Ifranjiyyah wa al-Qibṭiyyah (Muhammadiyah.or.id/Kedungademmu.id) |
Dalam bagian tabel untuk tahun 1447 H, Mukhtar Pasha secara eksplisit menempatkan 1 Ramadan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026 M. Angka ini sama persis dengan hasil ijtihad yang dilakukan melalui KHGT oleh Muhammadiyah, meskipun sang penulis hidup hampir dua abad lalu dan menghitungnya secara manual tanpa bantuan alat modern.
Sistem KHGT itu sendiri merupakan inovasi penanggalan Islam yang sedang diperkenalkan oleh Muhammadiyah. Sistem ini menetapkan bahwa jika hilal (bulan sabit baru) sudah diprediksi atau memenuhi syarat astronomis di salah satu wilayah dunia berdasarkan parameter tertentu, maka seluruh umat Islam dapat mengawali bulan baru secara serempak di seluruh dunia.
Prinsip ini bertujuan untuk mengurangi ragam penentuan awal bulan yang selama ini bergantung pada hisab lokal atau rukyat yang berbeda-beda di setiap negara.
Syamsul Anwar menegaskan bahwa KHGT bukan hanya sekadar metode astronomi semata, melainkan juga mencerminkan kebutuhan umat Islam kontemporer terhadap sistem kalender yang lebih terpadu dan relevan secara global. Menurutnya, hal ini sejalan dengan semangat persatuan dan keseragaman dalam praktik ibadah yang menjadi bagian penting dari kehidupan umat Islam di era modern.
Kisah prediksi Mukhtar Pasha membuktikan bahwa gagasan penetapan kalender Islam yang bersifat global bukanlah hal baru, melainkan sudah pernah muncul dan dipraktikkan setidaknya sejak abad ke-19. Meski demikian, Muhammadiyah menegaskan bahwa penetapan KHGT tidak secara khusus merujuk pada karya tersebut, melainkan menggabungkan prinsip syar’i, fikih, dan astronomi untuk menghasilkan keputusan yang valid secara ilmiah dan keagamaan.
Namun demikian, penetapan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 ini tidak sepenuhnya seragam di seluruh penjuru Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia melalui Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar menetapkan bahwa awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 berdasarkan hasil hisab dan rukyat hilal yang belum terlihat secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia. Hal ini memicu tradisi diskusi dan perbedaan metode yang biasa terjadi setiap tahun menjelang Ramadan.
Perbedaan tanggal ini tidak serta merta diartikan sebagai perselisihan, tetapi justru mencerminkan dinamika ijtihad dan pendekatan yang beragam dalam tradisi keislaman Indonesia, dari metode modern global hingga metode hisab dan rukyat klasik yang tetap dipertahankan oleh sebagian ulama dan ormas lain.


