![]() |
| Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Moh. Khoirul Abduh (kanan) saat menyampaikan materi pada Baitul Arqam Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ngrandu (Zakariya/Kedungademmu.id) |
Dalam kegiatan perkaderan tersebut, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Moh. Khoirul Abduh, hadir sebagai narasumber yang menyampaikan materi bertajuk “Ideologi dan Manhaj Gerakan Muhammadiyah.”
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan gerakan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh sejauh mana para kader memahami landasan ideologis sekaligus metode perjuangannya.
Kegiatan yang berlangsung di Perguruan Muhammadiyah Ngrandu, Kedungadem, Bojonegoro ini diikuti oleh pimpinan dan anggota Pimpinan Ranting Muhammadiyah-Aisyiyah, pimpinan organisasi otonom, serta para pimpinan amal usaha Muhammadiyah di Ranting Ngrandu.
Baitul Arqam sendiri merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem kaderisasi Muhammadiyah yang bertujuan memperkuat pemahaman ideologi, komitmen gerakan, dan militansi kader.
Ideologi sebagai Arah Perjuangan
Dalam paparannya, Abduh menjelaskan bahwa ideologi dalam konteks Muhammadiyah tidak sekadar dimaknai sebagai doktrin atau slogan organisasi. Ideologi, menurutnya, merupakan sistem pandangan hidup yang mencakup keyakinan, cita-cita, serta strategi perjuangan.
“Ideologi adalah pandangan hidup sekaligus tujuan hidup. Di dalamnya terdapat ajaran serta cara untuk melaksanakan pandangan tersebut,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ideologi Muhammadiyah berakar pada ajaran Islam yang dipahami secara tajdid, yakni pembaruan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Ideologi ini kemudian menjadi landasan bagi seluruh aktivitas gerakan, baik dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, maupun pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, ideologi Muhammadiyah pada dasarnya merupakan sistem keyakinan dan cita-cita yang menuntun organisasi dalam mewujudkan tujuan besar: terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dalam kerangka tersebut, ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa kandungan utama dalam ideologi Muhammadiyah. Pertama, pemahaman Islam atau paham agama yang menjadi dasar teologis gerakan.
Kedua, pemahaman tentang hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berorientasi pada dakwah amar makruf nahi mungkar. Dan ketiga, misi, fungsi, serta strategi dakwah yang menjadi pedoman dalam menjalankan aktivitas organisasi.
“Gerakan Muhammadiyah bukan hanya organisasi sosial atau lembaga pendidikan. Ia adalah gerakan Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid,” tegasnya.
Manhaj: Metode Berpikir dan Bergerak
Selain ideologi, mantan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur ini juga menyoroti pentingnya memahami manhaj gerakan Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa istilah manhaj berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan terang, metode, atau sistem yang menjadi pedoman dalam berpikir dan bertindak.
Dalam perspektif Muhammadiyah, manhaj tidak hanya berkaitan dengan metode dakwah, tetapi juga cara berpikir yang sistematis dan terarah.
“Pemikiran Muhammadiyah disebut sebagai manhaj karena di dalamnya terdapat pokok-pokok gagasan yang tersusun sebagai sistem keyakinan, pemikiran, dan tindakan,” katanya.
Manhaj tersebut, lanjutnya, menjadi kerangka metodologis yang memungkinkan Muhammadiyah menjalankan gerakan secara konsisten sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan manhaj yang jelas, kader Muhammadiyah tidak sekadar bergerak secara spontan, tetapi memiliki arah dan metodologi yang teruji.
Ia menambahkan bahwa manhaj gerakan Muhammadiyah juga menuntut keseimbangan antara pemikiran dan aksi. Artinya, gagasan keislaman tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk amal nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Pentingnya Kader Ideologis
Dalam forum tersebut, ia juga mengingatkan bahwa tantangan gerakan Islam di era modern semakin kompleks. Globalisasi, perkembangan teknologi digital, serta perubahan sosial yang cepat menuntut organisasi untuk memiliki kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga kuat secara ideologis.
Menurutnya, kader yang memahami ideologi dan manhaj Muhammadiyah akan memiliki orientasi perjuangan yang jelas serta tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai arus pemikiran yang berkembang.
“Kalau kader memahami ideologi dan manhaj gerakan, maka ia tahu arah perjuangannya. Ia tidak mudah kehilangan orientasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penguatan ideologi harus terus dilakukan melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan. Baitul Arqam, lanjutnya, merupakan salah satu instrumen strategis dalam membentuk kader yang memiliki integritas ideologis sekaligus kapasitas intelektual.
Baitul Arqam sebagai Ruang Penguatan Gerakan
Kegiatan Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ngrandu ini menjadi bagian dari upaya memperkuat basis kader di tingkat akar rumput. Melalui forum seperti ini, para pimpinan, anggota, dan simpatisan Muhammadiyah Ngrandu mendapatkan kesempatan untuk memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai dasar organisasi.
Para peserta tampak mengikuti kegiatan dengan antusias. Diskusi berlangsung dinamis ketika sejumlah peserta mengajukan pertanyaan terkait implementasi ideologi dan manhaj Muhammadiyah dalam kehidupan sosial masyarakat.

