![]() |
| Tradisi Buka Bersama (Freepik.com/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Tradisi berbuka puasa bersama yang telah lama dikenal luas di kalangan umat Islam kini memperoleh pengakuan internasional. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan tradisi iftar atau berbuka puasa sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan ini menegaskan bahwa praktik keagamaan dalam Islam tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga melahirkan tradisi sosial yang memiliki dampak kultural secara global.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menilai pengakuan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam mampu menginspirasi lahirnya kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, tradisi berbuka bersama merupakan contoh nyata bagaimana ajaran agama dapat berkembang menjadi praktik sosial yang mempererat hubungan antarmanusia.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan berbuka puasa bersama bukan sekadar aktivitas makan setelah menjalankan ibadah puasa, tetapi juga mengandung makna kebersamaan yang kuat. Dalam praktiknya, kegiatan tersebut sering menjadi ruang perjumpaan sosial yang melibatkan keluarga, sahabat, hingga berbagai kelompok masyarakat.
“Tradisi ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam mampu melahirkan praktik sosial yang kemudian berkembang menjadi budaya yang diakui secara global,” ungkapnya.
Mu’ti juga menambahkan bahwa di Indonesia, budaya buka bersama telah menjadi fenomena sosial yang sangat khas selama Ramadan. Hampir di setiap tempat—mulai dari lingkungan keluarga, tempat kerja, hingga komunitas masyarakat—kegiatan ini menjadi agenda yang dinanti-nantikan setiap tahun.
Menurutnya, pengakuan UNESCO terhadap tradisi berbuka puasa bersama juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa praktik yang lahir dari tradisi keagamaan dapat berkembang menjadi warisan budaya yang diakui dunia.
Secara historis, praktik berbuka puasa memiliki landasan yang kuat dalam tradisi Islam sejak masa Nabi Muhammad. Umat Islam menjalankan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Ketika waktu magrib tiba, mereka membatalkan puasa dengan makan atau minum, sebuah praktik yang dikenal dengan istilah iftar.
Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad disebutkan memiliki kebiasaan berbuka dengan makanan sederhana, seperti kurma dan air putih. Praktik ini kemudian menjadi teladan bagi umat Islam di berbagai generasi setelahnya.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan berbuka puasa tidak hanya dilakukan secara pribadi atau dalam lingkup keluarga. Tradisi ini berkembang menjadi aktivitas kolektif yang melibatkan masyarakat luas. Banyak komunitas Muslim yang mengadakan kegiatan berbuka bersama sebagai bentuk kebersamaan dan solidaritas sosial.
Nilai utama yang terkandung dalam tradisi ini adalah semangat berbagi. Tidak sedikit orang yang dengan sukarela menyediakan makanan berbuka bagi orang lain yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bahkan di banyak tempat, kegiatan berbagi makanan ini dilakukan secara terbuka di masjid atau ruang publik.
Penetapan tradisi iftar sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO dilakukan setelah praktik tersebut dinilai memiliki nilai sosial dan historis yang penting bagi masyarakat Muslim di berbagai negara.
UNESCO melihat bahwa tradisi berbuka puasa tidak sekadar ritual keagamaan, melainkan juga praktik budaya yang mempromosikan solidaritas, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Dalam banyak komunitas, kegiatan berbuka puasa sering melibatkan kerja sama antara keluarga, tetangga, organisasi masyarakat, hingga lembaga sosial.
Selain itu, tradisi ini juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Hal tersebut menjadikannya sebagai salah satu bentuk budaya hidup yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Pengakuan internasional tersebut sekaligus menegaskan bahwa praktik budaya yang berakar dari nilai-nilai agama dapat memiliki makna universal. Nilai kebersamaan dan kepedulian yang terkandung dalam tradisi berbuka puasa dianggap relevan dengan semangat kemanusiaan yang bersifat lintas budaya.
Walaupun memiliki akar yang sama dalam ajaran Islam, praktik berbuka puasa bersama berkembang dengan corak yang berbeda di berbagai negara. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh latar belakang budaya, tradisi lokal, serta kondisi sosial masyarakat setempat.
Di Indonesia, kegiatan buka bersama sering menjadi agenda sosial yang sangat populer selama Ramadan. Acara ini kerap diadakan oleh berbagai kelompok, mulai dari keluarga besar, teman sekolah, komunitas, hingga institusi pemerintahan dan swasta. Banyak rumah makan dan restoran juga menyediakan paket khusus untuk kegiatan buka bersama selama bulan puasa.
Di beberapa negara lain, tradisi berbuka puasa juga memiliki ciri khas tersendiri. Di Turki, misalnya, pemerintah daerah sering menyediakan meja makan panjang di ruang publik agar masyarakat dapat berbuka bersama. Suasana Ramadan di kota-kota Turki juga biasanya diramaikan dengan berbagai kegiatan sosial dan festival kuliner yang berkaitan dengan tradisi iftar.
Sementara itu, di sejumlah negara Timur Tengah, kegiatan berbuka puasa kerap disertai dengan kegiatan amal. Berbagai lembaga sosial menyediakan makanan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan, sehingga tradisi berbuka puasa menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian sosial.
Keragaman bentuk tradisi ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan dapat beradaptasi dengan budaya lokal di setiap wilayah. Nilai-nilai dasar Islam tetap menjadi fondasi, tetapi ekspresi budayanya berkembang sesuai dengan karakter masyarakat masing-masing.
Pengakuan UNESCO terhadap tradisi berbuka puasa bersama memperlihatkan bahwa Islam tidak hanya berperan dalam membentuk praktik keagamaan, tetapi juga memberi kontribusi terhadap perkembangan kebudayaan dunia.
Nilai-nilai seperti kebersamaan, solidaritas, dan kemurahan hati yang terkandung dalam tradisi ini menjadi pesan penting yang dapat dirasakan oleh berbagai komunitas di dunia. Tradisi berbuka puasa bersama juga memperlihatkan bagaimana ajaran agama dapat membentuk pola interaksi sosial yang positif.
Dalam praktiknya, kegiatan berbuka bersama menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmanusia. Banyak orang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat silaturahmi, memperbaiki hubungan sosial, serta menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

