Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya (Amizy Nova Airul Ayunda Kurniawan/kedungademmu.id)

Oleh: Amizy Nova Airul Ayunda Kurniawan

Kedungademmu.idBeberapa waktu lalu, penulis sempat menulis sebuah refleksi berjudul Jika Ini Ramadan Terakhirku. Tulisan tersebut lahir dari perenungan sederhana saat menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Hari-hari Ramadan kemudian berjalan sebagaimana biasanya. Aktivitas perkuliahan tetap berlangsung seperti hari-hari lain. Hingga suatu siang, ketika jadwal mata kuliah sedang jeda untuk melaksanakan salat Zuhur, penulis bersama beberapa teman menuju masjid kampus. Setelah salat berjemaah selesai, seorang khatib menyampaikan kultum singkat kepada para jemaah.

Dalam kultum tersebut, khatib mengingatkan tentang malam Lailatulqadar, malam yang dalam Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 3:

Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa satu malam di bulan Ramadan memiliki nilai yang sangat besar bagi seorang Muslim. Khatib juga menjelaskan bahwa malam Lailatulqadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk lebih bersungguh-sungguh dalam meningkatkan ibadah pada malam-malam tersebut.

Saat mendengar penjelasan itu, penulis tiba-tiba tersadar akan satu hal: Ramadan ternyata sudah hampir berakhir.

Rasanya baru kemarin orang-orang menyambut datangnya Ramadan. Masjid-masjid mulai ramai, masyarakat bersemangat menjalani sahur, berburu takjil menjelang berbuka, melaksanakan salat tarawih, serta menikmati suasana khas yang hanya hadir pada bulan suci ini. Namun tanpa terasa, kini kita sudah berada di penghujung Ramadan.

Sering kali manusia terlalu sibuk menjalani aktivitas sehari-hari hingga lupa bahwa waktu terus berjalan. Tiba-tiba saja Ramadan hampir meninggalkan kita.

Padahal, Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

Rasulullah saw. juga menjelaskan keutamaan malam Lailatulqadar dalam sebuah hadis. Beliau bersabda:

Barang siapa melaksanakan salat pada malam Lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari No. 1901 dan Muslim No. 760)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan pada sepuluh malam terakhir Ramadan sangat besar bagi setiap Muslim untuk meraih ampunan Allah Swt.

Sepuluh malam terakhir Ramadan seharusnya menjadi momen yang paling berharga. Sebab, di dalamnya terdapat kemungkinan seseorang bertemu dengan malam Lailatulqadar. Tidak ada yang mengetahui secara pasti malam ke berapa malam itu terjadi. Karena itulah, setiap malam pada sepuluh hari terakhir Ramadan memiliki kesempatan yang sama berharganya.

Barangkali itulah pengingat sederhana yang penulis rasakan siang itu di masjid kampus: Ramadan memang datang setiap tahun, tetapi belum tentu setiap orang diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya pada tahun berikutnya.

Oleh karena itu, sebelum Ramadan benar-benar pergi, mungkin yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan sisa waktunya sebaik mungkin. Tidak harus dengan sesuatu yang besar, cukup dengan memperbaiki ibadah yang masih kurang serta menambah amal kebaikan sesuai kemampuan.

Sebab, terkadang yang paling penting bukanlah bagaimana kita memulai Ramadan dengan penuh semangat, melainkan bagaimana kita menutupnya dengan ibadah dan kebaikan yang lebih baik.