Namun, di tengah realitas sosial, muncul fenomena yang patut direnungkan. Ada sebagian orang yang di satu sisi bekerja keras dan berdoa agar hidupnya berkecukupan, bahkan kaya raya. Akan tetapi, di sisi lain, ketika pendataan bansos dilakukan, ia justru berharap tetap terdata sebagai warga miskin agar bantuan terus mengalir. Inilah ironi yang sering menjadi bahan perbincangan di masyarakat.
Secara logika, dua harapan itu saling bertentangan. Kekayaan identik dengan kemandirian, sedangkan bantuan sosial diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar tidak mampu. Jika seseorang sungguh ingin keluar dari kemiskinan, semestinya ia juga siap keluar dari daftar penerima bantuan. Sebab, bansos bukanlah simbol kehormatan, melainkan jaring pengaman sementara.
Pertanyaannya, doa mana yang akan dikabulkan? Dalam perspektif keimanan, doa bukan sekadar ucapan, melainkan cerminan kesungguhan hati. Ketika seseorang lebih berharap tetap miskin demi bantuan, maka secara tidak sadar ia sedang menanamkan mental ketergantungan. Sebaliknya, jika ia benar-benar ingin sejahtera, maka ia harus rela melepaskan status penerima bantuan sebagai bagian dari proses naik kelas kehidupan.
Fenomena ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak introspeksi. Bantuan sosial seyogianya menjadi batu loncatan, bukan sandaran permanen. Negara berkewajiban membantu, tetapi masyarakat juga berkewajiban berikhtiar dan menjaga integritas.
Kita semua tentu ingin hidup layak tanpa bergantung pada bantuan. Maka, barangkali yang perlu diperbaiki bukanlah programnya, melainkan mentalitasnya. Karena pada akhirnya, doa yang paling kuat adalah doa yang selaras dengan usaha dan kejujuran diri sendiri.

