Din Syamsuddin (Muhammadiyah.or.id/Kedungademmu.id)

Kedungademmu.id
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Situasi ini memicu berbagai reaksi dari tokoh dunia, termasuk dari Indonesia.

Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, Prof. Din Syamsuddin, menilai bahwa agresi tersebut tidak dapat dipandang sebagai konflik biasa antarnegara.

Menurutnya, serangan terhadap Iran memiliki makna yang jauh lebih luas. Ia menilai tindakan militer tersebut merupakan bagian dari strategi besar yang berkaitan dengan konflik Palestina serta dinamika kekuatan di dunia Islam.

Din Syamsuddin menyatakan bahwa agresi yang dilakukan Israel dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Iran pada hakikatnya bukan hanya serangan terhadap satu negara, melainkan juga bagian dari tekanan terhadap dunia Islam secara keseluruhan.

“Serangan Zionis Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran adalah serangan terhadap dunia Islam, dan merupakan bagian dari upaya penaklukan Palestina secara menyeluruh,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Upaya Melemahkan Pembela Palestina
Din menilai bahwa Iran selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang secara terbuka dan konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina. Dukungan tersebut tidak hanya dalam bentuk sikap politik, tetapi juga dalam berbagai aspek yang menunjukkan keberpihakan terhadap nasib rakyat Palestina yang berada di bawah tekanan Israel.

Dalam konteks tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015 ini memandang bahwa upaya melemahkan Iran dapat dibaca sebagai bagian dari strategi yang lebih luas. Tujuannya, menurut dia, adalah untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kekuatan regional yang selama ini menjadi pendukung utama Palestina.

Menurut Din, Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat telah lama menjalankan agenda geopolitik untuk memperkuat dominasinya atas Palestina. Dalam kerangka strategi tersebut, setiap pihak yang dianggap menjadi penghalang terhadap kepentingan tersebut berpotensi menjadi sasaran tekanan, baik secara politik maupun militer.

Ia menegaskan bahwa langkah melemahkan Iran tidak bisa dilepaskan dari konteks tersebut. Dengan menekan Iran, kekuatan yang selama ini menyuarakan pembelaan terhadap Palestina di tingkat regional diharapkan akan berkurang.

Ambisi Dominasi Kawasan
Lebih jauh, Din Syamsuddin menilai bahwa kepentingan geopolitik Israel tidak hanya berhenti pada penguasaan Palestina. Ia melihat adanya ambisi yang lebih luas untuk memperkuat dominasi di kawasan Timur Tengah, khususnya di dunia Arab dan negara-negara Muslim.

Menurutnya, strategi tersebut mencakup berbagai dimensi, mulai dari kepentingan ideologis, politik, hingga ekonomi. Dalam perspektif ini, konflik yang terjadi tidak semata-mata merupakan pertikaian militer, melainkan bagian dari persaingan kekuatan global yang kompleks.

Din juga menyinggung keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan Teluk. Ia menilai keberadaan fasilitas militer tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga pengaruh serta kontrol geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, ia menilai bahwa politik adu domba atau divide et impera juga kerap dimainkan dalam dinamika kawasan. Isu perbedaan mazhab antara Sunni dan Syiah, maupun sentimen etnis antara Arab dan Persia, sering kali dimanfaatkan untuk memecah soliditas dunia Islam.

Menurutnya, strategi semacam ini dapat melemahkan persatuan umat Islam sehingga memudahkan pihak-pihak tertentu untuk memperkuat pengaruh dan dominasi di kawasan.

Kekhawatiran Terhadap Provokasi Konflik
Dalam analisisnya, Din juga mengingatkan adanya potensi provokasi yang dapat memicu konflik horizontal di kawasan Timur Tengah. Ia menilai tidak tertutup kemungkinan terjadi operasi tertentu yang kemudian diarahkan untuk menyudutkan Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Jika hal itu terjadi, menurutnya, situasi dapat dengan mudah berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan melibatkan banyak negara di kawasan.

Ia mengingatkan bahwa eskalasi konflik semacam ini sangat berbahaya karena dapat menyeret Timur Tengah ke dalam ketegangan yang berkepanjangan. Selain berdampak pada stabilitas kawasan, situasi tersebut juga berpotensi mempengaruhi kondisi politik global.

Kritik terhadap Inisiatif “Board of Peace”
Din Syamsuddin juga menyoroti adanya inisiatif yang disebut sebagai “Board of Peace”. Ia menilai konsep tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan upaya perdamaian yang sejati.

Menurutnya, skema tersebut berpotensi menjadi bentuk kamuflase politik yang pada akhirnya justru menguntungkan Israel. Ia menyayangkan jika ada pihak yang tidak menyadari potensi kepentingan di balik inisiatif tersebut.

Dalam pandangannya, jaminan keamanan terhadap Israel menjadi persoalan yang kompleks ketika di saat yang sama masih terjadi tindakan agresi dan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat Palestina.

Ia menilai pendekatan yang terlalu menekankan keamanan Israel tanpa disertai penghormatan terhadap hak-hak rakyat Palestina hanya akan memperpanjang konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Sorotan terhadap Sikap Indonesia
Din juga menyinggung posisi Indonesia dalam menghadapi eskalasi konflik tersebut. Menurutnya, Indonesia perlu memiliki sikap yang lebih tegas jika ingin memainkan peran sebagai mediator atau penengah dalam konflik internasional.

Ia menilai Indonesia tidak akan berada dalam posisi yang kuat untuk menjadi penengah jika tidak memiliki pengaruh politik yang cukup serta jika dipersepsikan terlalu dekat dengan kepentingan salah satu pihak.

Karena itu, ia menegaskan bahwa jika Indonesia benar-benar ingin berperan dalam proses perdamaian, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mendorong penghentian agresi terhadap Palestina.

“Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus menekan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan agresi dan ambisinya,” ujarnya.

Seruan Persatuan Dunia Islam
Dalam kesempatan tersebut, Din Syamsuddin juga menyerukan pentingnya solidaritas di kalangan umat Islam di seluruh dunia. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah persatuan, seperti perbedaan mazhab antara Sunni dan Syiah.

Menurutnya, persatuan dan konsolidasi internal merupakan langkah penting untuk menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Ia juga mendorong Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) agar lebih aktif dan responsif dalam menyikapi perkembangan konflik di Timur Tengah. Menurutnya, organisasi tersebut memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk membela kepentingan umat Islam.

Bagi Din Syamsuddin, konflik yang terjadi di Timur Tengah tidak hanya berkaitan dengan persoalan regional semata. Konflik tersebut juga mencerminkan konfigurasi kekuatan global yang berkaitan dengan kedaulatan, identitas, dan masa depan dunia Islam.

Karena itu, setiap eskalasi yang terjadi di kawasan tersebut memiliki dampak luas, tidak hanya bagi stabilitas Timur Tengah tetapi juga terhadap dinamika politik dan solidaritas dunia Islam secara keseluruhan.