Zainuddin Wakil Ketua PDM Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)

Oleh: Zainuddin, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Kedungademmu.id
—Idulfitri merupakan puncak dari perjalanan spiritual selama bulan Ramadan. Namun demikian, hari raya ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk melanjutkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Idulfitri menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah, yaitu kesucian jiwa yang bersih dari dosa dan penyakit hati.

Kemenangan sejati pada Idulfitri terletak pada keberhasilan seseorang dalam menaklukkan ego dan menggantinya dengan kerendahan hati. Kesucian tidak ditentukan oleh penampilan lahiriah, seperti pakaian baru, melainkan oleh kebersihan hati yang diwujudkan melalui sikap saling memaafkan. Permohonan maaf yang tulus, yang disampaikan tanpa menunggu diminta dan diterima tanpa menyisakan dendam, menjadi tanda kembalinya manusia pada fitrahnya.

Selain itu, Idulfitri juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahim. Hubungan yang sempat renggang dapat kembali terjalin melalui komunikasi yang dilandasi kasih sayang. Meskipun jarak memisahkan, doa dan ketulusan hati mampu menyatukan kembali ikatan persaudaraan.

Idulfitri mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan, melainkan pada kemampuan berbagi, bersyukur, dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Gema takbir yang berkumandang menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, sedangkan kebesaran hanya milik Allah Swt.
Rasulullah saw. mencontohkan pelaksanaan Idulfitri dengan penuh kesederhanaan dan kekhusyukan. Dari Ibnu Umar r.a. diriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي فِي الْفِطْرِ ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَ الصَّلَاةِ
(HR Bukhari)
Rasulullah saw. melaksanakan salat Idulfitri, kemudian berkhutbah setelah salat.”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas dan Jabir r.a. disebutkan bahwa salat Idulfitri dilaksanakan tanpa azan dan iqamah (HR Bukhari). 

Hal ini menunjukkan bahwa esensi Idulfitri terletak pada ibadah, kebersamaan, dan kesederhanaan.

Dengan demikian, Idulfitri adalah momentum untuk kembali kepada Allah Swt., memperbaiki hubungan dengan sesama, serta melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama Ramadan. Mari jadikan Idulfitri sebagai titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik, penuh keikhlasan, dan senantiasa menjaga kesucian hati dalam kehidupan sehari-hari.