Zainuddin Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)

Oleh: Zainuddin, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Kedungademmu.id
Iktikaf merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Melalui iktikaf, seorang muslim berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan memperbanyak ibadah, zikir, doa, serta merenungi perjalanan hidupnya.

Allah Swt. berfirman:

وَعَهِدۡنَاۤ إِلَىٰۤ إِبۡرَاهِيمَ وَإِسۡمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيۡتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالۡعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

 “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang-orang yang iktikaf, orang-orang yang rukuk, dan orang-orang yang sujud.’” (QS. Al-Baqarah: 125)

Ayat ini menunjukkan bahwa masjid merupakan tempat suci yang disediakan untuk berbagai bentuk ibadah, termasuk iktikaf. Dalam ibadah ini, seorang hamba berusaha menjauh sejenak dari kesibukan dunia untuk lebih fokus beribadah kepada Allah.

Allah Swt. juga berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

 “Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istrimu) ketika kamu sedang beriktikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat tersebut menegaskan bahwa iktikaf adalah ibadah yang menuntut kesungguhan dan keseriusan. Saat seseorang beriktikaf, ia diharapkan memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah Swt.

Sejatinya, iktikaf bukan sekadar berdiam diri di dalam masjid. Iktikaf merupakan upaya menahan ego dan hawa nafsu agar jiwa menemukan kebebasannya. Dalam keheningan masjid, seorang hamba berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia agar dapat mendengar kembali bisikan nurani yang sering tertutup oleh kebisingan kehidupan.

Ada banyak hikmah yang dapat dipetik dari ibadah iktikaf. Pertama, iktikaf merupakan perjalanan pulang bagi seorang hamba, meninggalkan kesibukan dunia untuk kembali mendekat kepada Sang Pencipta. Kedua, iktikaf menjadi benteng bagi hati dari berbagai godaan dan kepalsuan dunia yang sering melalaikan manusia dari tujuan hidupnya.

Ketiga, iktikaf merupakan momen yang tepat untuk mengisi kembali kekuatan iman yang mungkin mulai melemah akibat berbagai persoalan kehidupan. Keempat, di atas sajadah saat iktikaf, setiap doa dan air mata menjadi jalan menuju ampunan Allah Swt.

Selain itu, iktikaf juga mengajarkan kesederhanaan dan ketenangan jiwa. Ketika seseorang mampu melepaskan sejenak ketergantungannya pada kesibukan dunia, ia akan merasakan bahwa kebahagiaan sejati justru hadir saat hati merasa cukup dengan kedekatan kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. memberikan teladan dalam melaksanakan iktikaf. Beliau bersabda:

إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ، ثُمَّ قِيلَ لِي إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ

Aku beri’tikaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari Lailatul Qadar, kemudian pada sepuluh hari pertengahan. Lalu diberitahukan kepadaku bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh hari terakhir. Maka siapa yang ingin beri’tikaf, hendaklah ia beri’tikaf.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang nazarnya untuk beriktikaf satu hari di Masjidil Haram yang diucapkannya pada masa jahiliah. Rasulullah saw. menjawab:

اذْهَبْ فَاعْتَكِفْ يَوْمًا

 “Pergilah dan laksanakan iktikafmu selama satu hari.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa iktikaf merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Ia menjadi kesempatan bagi seorang hamba untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan hati kepada Allah Swt.

Di tengah kehidupan dunia yang semakin bising, iktikaf menjadi cara bagi seorang muslim untuk mencuri waktu demi merasakan keheningan yang menenangkan. Dalam kesunyian masjid, seorang hamba belajar bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada ketenangan hati yang dekat dengan Tuhannya.

Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan momentum Ramadan, khususnya pada sepuluh hari terakhir, untuk menghidupkan sunnah iktikaf. Semoga melalui ibadah ini, hati kita semakin bersih, iman semakin kuat, dan kita termasuk orang-orang yang memperoleh keberkahan Lailatul Qadar.

Wallahu a‘lam bish-shawab.