Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Tamhid Masyhudi (kiri) saat menyampaikan materi pada Kajian Ramadan 1447 Hijriah PDM Bojonegoro (Lenteramu/Kedungademmu.id)

Kedungademmu.id
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Tamhid Masyhudi, menegaskan bahwa persoalan kerusakan lingkungan sejatinya telah menjadi perhatian sejak awal penciptaan manusia. Hal tersebut ia sampaikan saat menyampaikan materi pada Kajian Ramadan 1447 Hijriah Muhammadiyah Bojonegoro di Aula Taqwa, Ahad (8/3/2026) bertema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan.

Menurut Tamhid, dalam perspektif teologis Islam, manusia memang diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Namun amanah tersebut sejak awal telah diiringi dengan kekhawatiran mengenai potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh manusia.

Ia menjelaskan bahwa kecurigaan mengenai potensi kerusakan yang dilakukan manusia bahkan pernah disampaikan oleh malaikat ketika Allah hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi.

Peristiwa tersebut terekam dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam QS. Al-Baqarah: 30, yang mengisahkan dialog antara Allah dan para malaikat. Dalam ayat itu disebutkan bagaimana malaikat mempertanyakan penciptaan manusia yang berpotensi menimbulkan kerusakan.

“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” demikian kutipan ayat yang disampaikan Tamhid saat menjelaskan konteks teologis tanggung jawab manusia terhadap bumi.

Tamhid menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan pelajaran penting mengenai posisi manusia di hadapan alam semesta. Sebagai khalifah, manusia memiliki kekuasaan sekaligus tanggung jawab untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya.

Menurutnya, kekuasaan manusia atas alam tidak boleh dipahami sebagai kebebasan tanpa batas untuk mengeksploitasi sumber daya alam. Sebaliknya, kekuasaan tersebut harus diiringi dengan kesadaran moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Dalam sejarah peradaban manusia, eksploitasi alam sering kali terjadi karena manusia lebih menonjolkan kepentingan ekonomi dan pembangunan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Akibatnya, berbagai bencana ekologis seperti banjir, tanah longsor, hingga kerusakan hutan menjadi persoalan yang terus berulang.

Karena itu, Tamhid menekankan bahwa memahami persoalan lingkungan tidak cukup hanya melalui pendekatan teknis semata. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang penting untuk mengatasi berbagai persoalan ekologis, tetapi aspek spiritual dan teologis juga harus menjadi fondasi utama dalam membangun kesadaran lingkungan.

Menurut Tamhid, sebagai bangsa yang religius, pendekatan teologis memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam.

Ia menilai bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi landasan moral yang kuat dalam membentuk perilaku manusia agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ketika manusia memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah Tuhan, maka upaya pelestarian lingkungan tidak lagi sekadar kewajiban sosial, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah.

Pendekatan teologis ini juga dapat mendorong lahirnya etika lingkungan yang berakar pada ajaran agama. Dalam Islam, misalnya, banyak ajaran yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam, tidak berbuat kerusakan, serta memanfaatkan sumber daya secara bijaksana.

Tamhid menilai bahwa penguatan perspektif keagamaan dalam isu lingkungan menjadi sangat penting, terutama di tengah meningkatnya eksploitasi sumber daya alam yang sering kali mengabaikan prinsip keberlanjutan.

"Meski sejak awal malaikat telah mengungkapkan kekhawatiran mengenai potensi kerusakan yang dilakukan manusia," Tamhid menegaskan, "Manusia juga memiliki potensi besar untuk menjadi pelestari alam."

Potensi tersebut muncul karena manusia dianugerahi akal, ilmu pengetahuan, dan kemampuan untuk mengelola bumi secara bijaksana. Dengan potensi tersebut, manusia seharusnya mampu menciptakan sistem kehidupan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Ia menambahkan bahwa aktivitas pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam memang tidak dapat dihindari dalam kehidupan modern. Namun proses tersebut harus disertai dengan tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam.

“Maka manusia memiliki potensi sebagai pelestari alam. Itu adalah bentuk tanggung jawab setelah adanya aktivitas pembangunan dan eksploitasi terhadap alam,” ujarnya.

Karena itu, Tamhid mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran ekologis yang berlandaskan pada nilai-nilai agama. Kesadaran tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya perilaku yang lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan saja, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh umat manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Dengan memadukan pendekatan ilmiah dan nilai-nilai teologis, Tamhid optimistis bahwa manusia dapat menjalankan perannya sebagai pengelola bumi yang bertanggung jawab. Melalui kesadaran tersebut, pembangunan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.