![]() |
| (www.unplash.com) |
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini kita telah memasuki hari ke-20 Ramadan. Artinya, dua pertiga perjalanan bulan suci ini telah kita lalui. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, Ramadan akan meninggalkan kita. Karena itu, penting bagi kita untuk merenungkan satu pertanyaan: apakah ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan akan berhenti ketika Ramadan berakhir, ataukah akan terus berlanjut dalam kehidupan kita?
Ramadan sejatinya adalah madrasah ruhani yang melatih kita untuk memperbaiki kualitas ibadah. Selama bulan ini kita terbiasa bangun lebih awal untuk sahur, lebih rajin membaca Al-Qur’an, lebih sering shalat berjamaah, serta lebih banyak bersedekah. Semua itu adalah kebiasaan baik yang seharusnya tidak berhenti ketika Ramadan selesai.
Allah Swt. mengingatkan dalam Al-Qur’an:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).(QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah kepada Allah tidak dibatasi oleh waktu tertentu. Ibadah bukan hanya milik Ramadan, tetapi kewajiban sepanjang hidup kita.
Jamaah sekalian,
Salah satu tanda diterimanya amal ibadah adalah munculnya istiqamah, yaitu konsistensi dalam kebaikan. Orang yang benar-benar mendapatkan pelajaran dari Ramadan akan berusaha mempertahankan kebiasaan baik yang telah ia bangun selama bulan suci ini.
Memang, menjaga konsistensi bukan perkara mudah. Semangat ibadah biasanya sangat kuat di awal Ramadan, tetapi perlahan-lahan bisa menurun. Hal yang sama juga sering terjadi setelah Ramadan berlalu. Karena itu, kita perlu melatih diri untuk menjaga kesinambungan amal.
Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang sangat indah dalam sebuah hadis:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa konsistensi lebih penting daripada banyaknya amal yang dilakukan sesekali. Amal kecil yang dilakukan secara rutin memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ramadan sebenarnya telah melatih kita untuk membangun rutinitas ibadah. Kita terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari, shalat tepat waktu, memperbanyak doa, dan menahan diri dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Kebiasaan ini adalah modal yang sangat berharga untuk kehidupan setelah Ramadan.
Jika kita mampu menjaga sebagian dari kebiasaan ini, maka Ramadan benar-benar telah memberikan dampak positif dalam hidup kita. Misalnya, kita berusaha tetap membaca Al-Qur’an setiap hari meskipun hanya beberapa ayat, menjaga shalat berjamaah di masjid, atau membiasakan diri bersedekah walaupun dengan jumlah yang sederhana.
Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter seorang Muslim yang kuat. Ia tidak hanya beribadah ketika suasana mendukung, tetapi tetap beribadah dalam berbagai kondisi kehidupan.
Jamaah yang berbahagia,
Salah satu tantangan terbesar setelah Ramadan adalah kembali pada rutinitas duniawi yang padat. Pekerjaan, aktivitas sehari-hari, dan berbagai kesibukan sering kali membuat seseorang mengurangi kualitas ibadahnya. Di sinilah kita perlu menjaga kesadaran bahwa hubungan dengan Allah harus tetap menjadi prioritas.
Ramadan mengajarkan kita bahwa sebenarnya kita mampu meluangkan waktu untuk ibadah. Jika selama Ramadan kita mampu membaca Al-Qur’an, bangun malam, dan memperbanyak doa, maka sesungguhnya kebiasaan itu juga bisa kita pertahankan meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana setelah Ramadan.
Hadirin sekalian,
Di hari ke-20 Ramadan ini, marilah kita memperkuat tekad untuk menjaga istiqamah dalam beribadah. Jadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan yang berlalu tanpa bekas.
Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal ibadah kita, memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah dalam kebaikan, dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa dekat kepada-Nya sepanjang hidup kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

