![]() |
| (www.unplash.com) |
Jamaah yang dirahmati Allah,
Alhamdulillah, kita telah memasuki hari ke-22 Ramadan. Ini berarti kita sedang berada di fase akhir bulan suci, yaitu sepuluh malam terakhir yang sangat dimuliakan oleh Allah Swt. Pada masa inilah Rasulullah Saw meningkatkan kesungguhan ibadahnya, memperbanyak doa, serta menghidupkan malam dengan berbagai amal saleh.
Di fase akhir Ramadan ini, sangat tepat jika kita menjadikan bulan suci ini sebagai momentum hijrah moral, yaitu perubahan sikap dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih diridhai oleh Allah.
Hijrah dalam makna yang lebih luas tidak hanya berarti perpindahan tempat sebagaimana peristiwa sejarah hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah. Hijrah juga berarti perpindahan dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari kemaksiatan menuju ketaatan.
Rasulullah Saw bersabda:
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. (HR. al-Bukhari)
Hadis ini memberikan pengertian yang sangat dalam tentang makna hijrah. Hijrah sejati adalah perubahan moral dan spiritual dalam diri seseorang.
Jamaah sekalian,
Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukan hijrah moral. Suasana spiritual yang kuat, ibadah yang lebih intens, serta lingkungan yang mendorong kebaikan membuat hati manusia lebih mudah tersentuh.
Selama Ramadan, kita berlatih menahan diri dari berbagai hal: menahan lapar dan haus, menahan amarah, menahan lisan dari kata-kata yang tidak baik, serta menahan diri dari berbagai perbuatan yang tidak bermanfaat. Semua latihan ini sebenarnya adalah proses membangun perubahan dalam diri.
Namun, perubahan yang kita bangun di bulan Ramadan tidak boleh berhenti ketika Ramadan berakhir. Jika setelah Ramadan kita kembali kepada kebiasaan lama yang buruk, maka kita belum sepenuhnya menangkap hikmah dari ibadah puasa.
Hijrah moral berarti kita berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang merusak diri, seperti kebohongan, kemalasan, kedengkian, dan sikap tidak amanah. Sebaliknya, kita membangun kebiasaan baru yang lebih baik: jujur, disiplin, sabar, dan peduli kepada sesama.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Perubahan moral tidak terjadi secara instan. Ia membutuhkan kesadaran, niat yang kuat, dan usaha yang terus-menerus. Ramadan adalah titik awal yang sangat baik untuk memulai perubahan tersebut.
Ketika seseorang mampu menahan diri dari makan dan minum sepanjang hari karena Allah, sebenarnya ia juga memiliki kemampuan untuk menahan diri dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Puasa membuktikan bahwa manusia mampu mengendalikan dirinya jika memiliki kesadaran spiritual yang kuat.
Karena itu, jangan sia-siakan kesempatan emas yang Allah berikan di bulan Ramadan ini. Gunakan waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Jamaah yang berbahagia,
Hijrah moral juga berarti memperbaiki hubungan kita dengan orang lain. Jika selama ini kita pernah menyakiti orang lain dengan perkataan atau perbuatan, Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperbaikinya.
Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari akhlak yang baik kepada sesama manusia. Orang yang benar-benar memahami nilai Ramadan akan berusaha menjadi pribadi yang lebih ramah, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi lingkungannya.
Hadirin sekalian,
Di hari ke-22 Ramadan ini, marilah kita menjadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk melakukan hijrah moral dalam kehidupan kita. Mulailah dari langkah-langkah kecil: memperbaiki niat, memperbaiki lisan, memperbaiki sikap, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Semoga Allah Swt. memberikan kekuatan kepada kita untuk terus memperbaiki diri, menerima amal ibadah kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa berada di jalan yang lurus.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

