Drs Sholikin Jamik SH MH, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)


Oleh: Drs Sholikin Jamik SH MH, Wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Kedungademmu.idLailatul Qadar merupakan salah satu malam paling agung dalam bulan Ramadan yang senantiasa dinanti oleh umat Islam. Malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, karena nilai ibadah yang dilakukan di dalamnya memiliki keutamaan yang sangat besar di sisi Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam Lailatul Qadar memiliki nilai ibadah yang melampaui ibadah selama puluhan tahun. Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan “seribu bulan” bukan sekadar angka, melainkan gambaran betapa luar biasanya keutamaan malam tersebut.

Lailatul Qadar diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh mencarinya melalui peningkatan ibadah.

Selain itu, Lailatul Qadar juga dikenal sebagai malam penentuan takdir. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt.:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Artinya: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan: 4)

Pada malam tersebut, berbagai ketentuan hidup manusia selama satu tahun ke depan ditetapkan, seperti rezeki, ajal, dan berbagai urusan lainnya. Oleh karena itu, malam ini menjadi momentum penting untuk memperbanyak doa dan memohon kebaikan kepada Allah Swt.

Keutamaan lain dari Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keselamatan dan keberkahan. Allah Swt. berfirman:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)

Malam ini dipenuhi dengan ketenangan, keberkahan, dan limpahan rahmat. Orang-orang yang menghidupkannya dengan iman dan keikhlasan akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.

Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk mengisi malam-malam terakhir Ramadan dengan berbagai amalan, seperti salat malam, iktikaf, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan bersedekah. Semua amalan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

Pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang dinanti, tetapi kesempatan emas bagi setiap hamba untuk memperbaiki diri, memohon ampunan, dan meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah Swt. Pertanyaannya, sudahkah kita bersungguh-sungguh mencarinya?