Drs Sholikin Jamik SH MH Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)


Oleh: Drs Sholikin Jamik SH MH, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro 

Kedungademmu.idDalam tradisi masyarakat, khususnya di wilayah Jawa, malam ke-29 Ramadan yang dikenal sebagai Malam Songo sering dianggap memiliki keistimewaan tersendiri. Malam ini kerap dipandang sebagai waktu yang sakral, bahkan dijadikan momentum untuk berbagai amalan, termasuk pernikahan. Namun, dalam perspektif syariat Islam, tidak ada keistimewaan khusus yang membedakan Malam Songo dari malam-malam lainnya pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Islam mengajarkan bahwa seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki kedudukan yang sangat mulia. Pada rentang waktu inilah umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dalam rangka meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Sebagaimana firman Allah Swt.:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 3)

Rasulullah saw. juga menganjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir, tanpa mengkhususkan malam tertentu sebagai yang paling utama. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh malam ganjil—termasuk malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29—memiliki peluang yang sama untuk menjadi Lailatul Qadar.

Dengan demikian, Malam Songo (malam ke-29) memang termasuk malam yang istimewa karena berada dalam rangkaian sepuluh malam terakhir. Akan tetapi, keistimewaannya tidak berdiri sendiri, melainkan sejajar dengan malam-malam lainnya dalam periode tersebut.

Umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam ini dengan berbagai ibadah, seperti salat malam (qiyamul lail), membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Kesungguhan dalam beribadah di seluruh malam tersebut menjadi kunci utama untuk meraih keberkahan dan ampunan dari Allah Swt.

Adapun tradisi pernikahan pada Malam Songo yang berkembang di masyarakat dapat dipandang sebagai bagian dari kebiasaan (‘urf) yang diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau mengandung unsur keyakinan mistis yang berlebihan, tradisi tersebut tetap berada dalam koridor yang dibenarkan.

Pada akhirnya, penting untuk dipahami bahwa keberkahan tidak terletak pada malam tertentu secara khusus, melainkan pada keimanan dan kesungguhan seorang hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, daripada mengistimewakan satu malam saja, lebih utama bagi kita untuk memuliakan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah terbaik.

Dengan begitu, peluang meraih Lailatul Qadar akan semakin besar, dan Ramadan benar-benar menjadi momentum peningkatan kualitas diri di hadapan Allah Swt.