![]() |
| Drs Sholikin Jamik SH MH, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id) |
Pada saat itu, pikiran berada dalam kondisi paling jernih dan segar. Secara biologis, setelah sahur tubuh baru saja mendapatkan asupan energi sehingga otak bekerja secara optimal. Di sisi lain, suasana pagi masih relatif tenang dan minim gangguan, termasuk notifikasi dari gawai yang biasanya belum terlalu ramai. Kondisi ini menjadikan waktu setelah sahur sebagai momen terbaik untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus dan kedalaman.
Sayangnya, kesempatan emas ini sering terlewatkan begitu saja karena kebiasaan tidur kembali setelah sahur.
Padahal, waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas yang bermakna dan mendalam, baik dalam bentuk ibadah maupun pengembangan diri. Tadarus Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan, berzikir, atau merenung dalam keheningan pagi dapat menghadirkan kedalaman spiritual yang sulit diperoleh pada waktu lain.
Bahkan, aktivitas spiritual selama tiga puluh menit pada waktu yang hening ini sering kali terasa lebih menyentuh hati dibandingkan ibadah yang dilakukan lebih lama pada siang hari ketika tubuh sudah mulai lelah.
Selain memberikan ketenangan batin, memanfaatkan waktu emas ini juga membantu menjaga ritme energi sepanjang hari. Sebaliknya, tidur kembali setelah sahur sering kali menimbulkan sleep inertia, yaitu rasa lemas dan berat saat bangun tidur yang justru membuat tubuh kurang bersemangat menjalani aktivitas.
Dengan mengisi waktu setelah sahur dengan kegiatan yang positif, seseorang dapat menjaga stabilitas energi sekaligus menyiapkan suasana hati yang lebih tenang dalam menghadapi berbagai aktivitas.
Bekerja sebagai Ibadah yang Berkelanjutan
Ramadan juga menjadi kesempatan untuk menata kembali cara pandang kita tentang makna ibadah. Ibadah tidak berhenti ketika seseorang selesai melaksanakan salat atau menutup mushaf Al-Qur’an.
Ketika seseorang bekerja dengan jujur, membantu rekan kerja, menjaga profesionalitas, serta menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, maka semua aktivitas tersebut juga bernilai ibadah.
Dalam perspektif ini, pekerjaan dapat dipandang sebagai ibadah yang berkelanjutan (extended worship). Setiap aktivitas—baik mengetik di komputer, berdiskusi dalam rapat, maupun mengajar di ruang kelas—dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang tulus dan cara yang benar.
Dengan cara pandang seperti ini, Ramadan tidak hanya menjadi bulan peningkatan ibadah ritual, tetapi juga menjadi sekolah spiritual yang melatih integritas, kesabaran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadan sebagai Momentum Perubahan
Ramadan seharusnya tidak sekadar menjadi pergantian kalender tahunan atau hanya identik dengan kemeriahan berbuka puasa. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum untuk memperbaiki cara kita memaknai waktu, pekerjaan, dan kehidupan.
Banyak orang menunggu waktu luang untuk beribadah secara lebih berkualitas. Padahal, bagi mereka yang produktif, waktu luang sering kali menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Karena itu, yang diperlukan bukanlah menunggu waktu luang, tetapi meluangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kesibukan kerja tidak seharusnya menjadi penghalang kesalehan. Justru di tengah kesibukan itulah nilai-nilai spiritual diuji dan dibuktikan. Ramadan menjadi ruang latihan agar seseorang mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap aktivitasnya.
Ketika seseorang mampu menghadirkan kesadaran penuh dalam setiap ibadah dan pekerjaannya, maka kelelahan yang dirasakan tidak lagi sekadar menjadi beban, tetapi berubah menjadi pengabdian yang bernilai.
Pada akhirnya, Ramadan yang berhasil adalah Ramadan yang mampu mengubah cara kita memandang kehidupan. Setiap detik waktu menjadi kesempatan untuk kembali mengingat Allah, bahkan di tengah kesibukan pekerjaan dan berbagai tenggat waktu yang harus diselesaikan.
Ramadan mengajarkan bahwa kualitas hidup tidak diukur dari banyaknya waktu yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar ruang dalam hati yang kita sediakan untuk mengingat-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

