Kajian Ramadan 1447 Hijriah PDM Bojonegoro mengambil tema "Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan" (Instagram PCM Bojonegoro/Kedungademmu.id)

Kedungademmu.id
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bojonegoro akan menggelar kegiatan Kajian Ramadan 1447 Hijriah yang menghadirkan sejumlah tokoh dari unsur pemerintah dan pimpinan Persyarikatan. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (8/3/2026), mulai pukul 08.00 WIB di Aula At-Taqwa Bojonegoro.

Kajian tersebut mengangkat tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan”, sebuah topik yang dinilai sangat relevan dengan situasi terkini dan tantangan zaman—terutama terkait krisis lingkungan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Melalui tema ini, Muhammadiyah Bojonegoro berupaya mendorong kesadaran keagamaan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyentuh aspek etika lingkungan dan tanggung jawab sosial umat Islam.

Kegiatan ini akan menghadirkan sejumlah narasumber utama yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman kepemimpinan di bidangnya. Di antaranya adalah Ir. Tamhid Masyhudi, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, yang dikenal aktif dalam pengembangan dakwah dan penguatan gerakan keumatan di tingkat regional. Selain itu, hadir pula Setyo Wahono, Bupati Bojonegoro, yang dijadwalkan memberikan perspektif mengenai pembangunan daerah yang berkelanjutan serta keterkaitannya dengan nilai-nilai keagamaan.

Narasumber lainnya adalah Dr. (C). Muchamad Arifin, M.Ag, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kehadirannya diharapkan mampu memberikan penguatan perspektif dakwah yang relevan dengan isu-isu kontemporer—khususnya mengenai relasi antara agama, lingkungan, dan peran umat Islam dalam menjaga kelestarian bumi.

Selain menghadirkan para pembicara utama, kegiatan ini juga akan dihadiri oleh jajaran pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah Bojonegoro bersama unsur organisasi otonom serta tokoh masyarakat. Kajian Ramadan ini secara khusus akan mengundang pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah serta Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah-Aisyiyah se-Kabupaten Bojonegoro sebagai peserta, sehingga diharapkan dapat menjadi forum silaturahmi sekaligus konsolidasi gerakan dakwah di lingkungan Persyarikatan.

Kehadiran pimpinan cabang dan ranting dari berbagai wilayah di Bojonegoro tersebut dipandang penting untuk memperkuat jaringan dakwah Muhammadiyah hingga tingkat akar rumput. Melalui forum kajian ini, para pimpinan Persyarikatan di tingkat lokal dapat memperoleh penguatan wawasan sekaligus inspirasi dalam mengembangkan program dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Tema ekoteologi yang diangkat dalam kajian ini menjadi salah satu perhatian penting dalam diskursus keislaman kontemporer. Konsep ini menempatkan ajaran agama sebagai landasan etis dan spiritual dalam menjaga keseimbangan alam. Dalam perspektif Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara, merawat, dan mengelola alam secara bijaksana.

Melalui kajian Ramadan ini, Muhammadiyah Bojonegoro berupaya memperluas pemahaman masyarakat bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga mencakup tanggung jawab horizontal terhadap sesama manusia dan lingkungan hidup. Dengan demikian, penguatan kesadaran ekologis dapat menjadi bagian integral dari praktik keberagamaan umat Islam.

Selain menghadirkan narasumber yang kompeten, kegiatan ini juga dirancang sebagai momentum mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat. Sinergi antara unsur pemerintah dan organisasi keagamaan dinilai penting dalam membangun kesadaran kolektif mengenai pembangunan yang berkelanjutan serta penguatan nilai-nilai moral dalam kehidupan sosial.

Bagi Muhammadiyah sendiri, kajian Ramadan merupakan salah satu agenda penting dalam rangka memperdalam pemahaman keislaman sekaligus memperkuat gerakan dakwah pencerahan. Setiap tahun, momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan untuk menghadirkan forum-forum kajian yang menghadirkan narasumber berkualitas serta tema-tema yang aktual dan relevan dengan dinamika masyarakat.

PDM Bojonegoro menilai bahwa isu lingkungan saat ini semakin mendesak untuk dibahas secara serius. Berbagai persoalan seperti perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran air, hingga krisis energi menunjukkan bahwa manusia perlu menata kembali relasinya dengan alam. Dalam perspektif Islam, kerusakan lingkungan dipandang sebagai akibat dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Karena itu, melalui tema “Ekoteologi dan Tugas Kekholifahan”, Muhammadiyah Bojonegoro berharap masyarakat dapat memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah keagamaan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterjemahkan dalam tindakan nyata, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kebijakan pembangunan di tingkat lokal.

Panitia penyelenggara juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi khalayak untuk mengikuti kegiatan ini secara daring melalui kanal YouTube LenteraMu, sehingga masyarakat yang tidak dapat hadir secara langsung tetap dapat mengikuti jalannya kegiatan.

Siaran langsung tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah dan memberikan akses kepada masyarakat yang lebih luas untuk mendapatkan manfaat dari kajian ini. Dengan dukungan teknologi digital, Muhammadiyah Bojonegoro berupaya menghadirkan dakwah yang lebih inklusif dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Melalui penyelenggaraan Kajian Ramadan 1447 H ini, Muhammadiyah Bojonegoro berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kesadaran keislaman yang berkemajuan. Tidak hanya menekankan aspek spiritualitas, tetapi juga mendorong keterlibatan umat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan membangun masyarakat yang berkeadaban.