![]() |
| Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro, Suwito saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Kajian Ramadan 1447 Hijriah Muhammadiyah Bojonegoro (Lenteramu/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Pesan kuat tentang tanggung jawab manusia terhadap kelestarian lingkungan mengemuka dalam sambutan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro, Suwito, pada pembukaan Kajian Ramadan 1447 Hijriah Muhammadiyah Bojonegoro di Aula Taqwa, Ahad (8/3/2026).
Dalam pidato sambutannya, Suwito menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar persoalan sosial atau ekologis, melainkan bagian dari amanah keimanan yang melekat pada setiap Muslim.
Di hadapan para peserta kajian yang hadir, ia mengingatkan bahwa Islam sejak awal telah menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Posisi tersebut tidak hanya memberi kehormatan kepada manusia, tetapi sekaligus memuat tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Menurut Suwito, salah satu cara memahami amanah tersebut adalah dengan terus mempelajari Al-Qur’an dan berbagai ilmu yang berkaitan dengan ajaran Allah. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap wahyu dan ilmu pengetahuan, manusia dapat menyadari peran strategisnya dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi.
“Kita sebagai mukmin diwajibkan untuk mempelajari Al-Qur’an atau ilmu-ilmu Allah bahwa kita hidup sebagai khalifah di muka bumi tidak hanya untuk kita sendiri atau sesama manusia saja,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan manusia di bumi tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok semata. Islam, menurutnya, mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab yang lebih luas, yaitu menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari ciptaan Allah.
“Sebagai khalifah, kita diminta untuk memelihara dan melestarikan lingkungan,” lanjutnya.
Suwito menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan alam dalam perspektif Islam bersifat harmonis. Alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan amanah yang harus dirawat dengan penuh tanggung jawab.
Dalam berbagai ayat Al-Qur’an, lanjutnya, manusia diperingatkan agar tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Kerusakan lingkungan sering kali terjadi ketika manusia melupakan prinsip keseimbangan dan keselarasan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam sistem kehidupan alam semesta.
Ia menambahkan bahwa berbagai bencana alam yang terjadi belakangan ini dapat menjadi pengingat bagi manusia untuk kembali merenungkan hubungan antara tindakan manusia dan keseimbangan alam.
Suwito menyinggung salah satu contoh bencana yang terjadi di Indonesia, yakni bencana di wilayah Sumatra beberapa waktu lalu. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari persoalan terganggunya kelestarian lingkungan.
“Bencana di Sumatra beberapa waktu lalu terjadi karena kelestarian alam terganggu,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa kerusakan lingkungan sering kali dipicu oleh aktivitas manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem. Penebangan hutan secara masif, eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, serta pengelolaan lingkungan yang kurang bijak dapat memicu berbagai bencana ekologis.
Dalam konteks itulah, Suwito menilai pentingnya menghidupkan kembali kesadaran ekologis dalam kehidupan umat Islam. Dakwah Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga harus mampu menanamkan kesadaran tentang tanggung jawab manusia terhadap alam.
Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan pada hakikatnya merupakan bagian dari ibadah. Ketika manusia merawat alam, ia sesungguhnya sedang menjalankan amanah sebagai khalifah yang telah ditetapkan oleh Allah.
Suwito juga mengaitkan persoalan kelestarian lingkungan dengan masa depan bangsa, khususnya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Ia mengingatkan bahwa pembangunan yang dilakukan saat ini tidak boleh mengorbankan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Menurutnya, generasi yang akan hidup pada masa Indonesia Emas harus tetap dapat menikmati alam yang lestari dan bumi yang layak untuk ditinggali.
“Generasi Emas 2045 diharapkan masih dapat menikmati alam yang lestari dan bumi yang dapat ditinggali,” katanya.
Harapan tersebut, lanjutnya, hanya dapat terwujud jika masyarakat mulai menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan sejak sekarang. Setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan yang lebih ramah lingkungan, baik melalui perubahan perilaku sehari-hari maupun melalui kebijakan pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Dalam pandangannya, organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga alam. Melalui berbagai kegiatan dakwah dan kajian keislaman, nilai-nilai kepedulian ekologis dapat ditanamkan secara lebih luas di tengah masyarakat.
Suwito juga menegaskan bahwa tema ekoteologi yang diangkat dalam Kajian Ramadan kali ini merupakan langkah penting untuk menghubungkan spiritualitas Islam dengan kesadaran ekologis.
Ekoteologi, menurutnya, memberikan perspektif bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan alam semesta. Seorang Muslim yang beriman tidak hanya menunjukkan kesalehannya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui sikap tanggung jawab terhadap lingkungan.
Karena itu, ia berharap kegiatan Kajian Ramadan Muhammadiyah Bojonegoro dapat menjadi ruang refleksi bersama bagi umat Islam untuk memahami kembali makna kekhalifahan di bumi.
Menurutnya, ketika manusia mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik, maka kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam dapat terwujud.
Di akhir sambutannya, Suwito mengajak seluruh peserta kajian untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat kesadaran spiritual sekaligus memperdalam komitmen menjaga lingkungan.
Baginya, Ramadan bukan hanya bulan untuk meningkatkan ibadah personal, tetapi juga waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan manusia dengan seluruh ciptaan Allah. Menjaga kelestarian alam, selain menjadi tugas ekologis, juga merupakan panggilan iman yang melekat dalam kehidupan setiap Muslim sebagai khalifah di muka bumi.

