Perang: Bahasa Tertua dari Hasrat Kuasa (www.unsplash.com)

Oleh:
Ahmad Nurefendi Fradana

Kedungademmu.id
Setiap zaman selalu memiliki cara sendiri untuk berbicara tentang kuasa. Kadang ia hadir dalam naskah pidato, dalam buku-buku teori, atau dalam rapat-rapat diplomatik yang penuh basa-basi. Namun jauh sebelum manusia mengenal bahasa politik yang serbasantun itu, ada satu bahasa yang sudah lebih dahulu dipahami oleh nyaris semua peradaban: perang.

Perang adalah bahasa paling purba dari hasrat menguasai.

Jika kita menengok sejarah manusia, hampir mustahil menemukan peradaban yang tidak pernah bersentuhan dengan perang. Dari kota-kota kuno di Mesopotamia hingga konflik modern yang dipandu satelit, manusia tampaknya selalu menemukan alasan—atau mungkin pembenaran—untuk saling menaklukkan. Seolah-olah ada sesuatu dalam diri manusia yang tidak sekadar ingin hidup berdampingan—tetapi juga sebab dorongan keinginan berada di atas yang liyan.

Barangkali di sinilah paradoks kemanusiaan itu bermula. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan kemampuan berpikir, berempati, sekaligus berimajinasi. Tetapi pada saat yang sama, manusia juga membawa naluri untuk mendominasi. Keinginan untuk berkuasa ini acap kali tampil dalam bentuk yang sangat sederhana: keinginan untuk diakui, dihormati, dan didengar. Namun ketika hasrat itu bertemu dengan kepentingan kolektif—entah itu bangsa, ideologi, atau agama—ia dapat menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: perang itu tadi.

Dalam karya klasiknya Leviathan, Thomas Hobbes menggambarkan keadaan alamiah manusia sebagai situasi bellum omnium contra omnes—perang semua melawan semua. Bagi Hobbes, manusia pada dasarnya hidup dalam ketakutan akan satu sama lain, sehingga konflik menjadi sesuatu yang nyaris tak terelakkan. Negara, hukum, dan institusi politik diciptakan untuk meredam kekacauan itu.

Namun sejarah acap menunjukkan bahwa institusi yang diciptakan untuk meredam konflik justru sering menjadi panggung baru bagi perebutan kuasa.

Perang tidak selalu dimulai dari kebencian. Sering kali ia lahir dari ambisi. Dari keinginan untuk memperluas wilayah, memperkuat pengaruh, atau sekadar memastikan bahwa nama suatu bangsa tercatat dalam peta dunia. Dalam arti tertentu, perang adalah semacam pernyataan eksistensial, “Kami ada, dan kami cukup kuat untuk mempertahankan keberadaan itu.”

Di sinilah perang menjadi penanda kuasa. Tidak mengherankan jika banyak imperium dalam sejarah membangun identitasnya melalui kemenangan militer. Kekuasaan politik hampir selalu memiliki hubungan intim dengan kemampuan untuk mengendalikan kekuatan bersenjata. Bahkan dalam dunia modern yang dipenuhi jargon perdamaian sekalipun, kekuatan militer masih menjadi salah satu indikator utama dari posisi sebuah negara dalam percaturan global. Kita bisa melihat ironi ini dengan cukup telanjang.

Di satu sisi, manusia modern sering mengklaim telah mencapai tingkat peradaban yang lebih tinggi. Kita memiliki hukum internasional, lembaga perdamaian, dan berbagai mekanisme diplomasi. Namun di sisi lain, belanja militer global terus meningkat dari tahun ke tahun. Teknologi yang sama yang memungkinkan manusia menjelajah ruang angkasa juga memungkinkan manusia menciptakan senjata yang semakin presisi dalam menghancurkan. Peradaban tampaknya tidak menghapus perang; ia hanya membuatnya lebih canggih.

Filsuf Prancis Michel Foucault pernah mengemukakan gagasan yang menarik: politik sebenarnya dapat dipahami sebagai kelanjutan perang dengan cara lain. Jika ungkapan terkenal tentang perang adalah bahwa ia merupakan kelanjutan politik dengan cara militer—Foucault membalik logika itu. Baginya, hubungan kekuasaan dalam masyarakat pada dasarnya selalu menyimpan jejak konflik.

Dengan kata lain, perang tidak selalu hadir dalam bentuk senjata. Ia bisa muncul dalam bentuk dominasi ekonomi, hegemoni budaya, atau kontrol pengetahuan.

Namun perang dalam arti harfiah tetap memiliki daya tarik simbolik yang kuat. Ia menandai siapa yang berkuasa dan siapa yang tunduk. Pemenang perang biasanya menulis sejarah, sementara yang kalah sering hanya menjadi catatan kaki.

Di sinilah tragedi perang menjadi begitu kompleks. Perang sering dikisahkan sebagai drama heroik: tentang keberanian, pengorbanan, dan kemenangan. Tetapi di balik narasi besar itu, ada kisah-kisah kecil yang sering terlupakan—rumah yang hancur, keluarga yang tercerai, dan generasi yang tumbuh dengan trauma tak berkesudahan yang tidak pernah mereka pilih.

Ironisnya, tragedi itu jarang cukup kuat untuk menghentikan perang berikutnya. Sejarah manusia tampaknya bergerak dalam pola yang aneh: setiap generasi mengutuk perang yang terjadi sebelumnya, tetapi tetap membuka kemungkinan bagi perang yang baru. Seolah-olah manusia selalu percaya bahwa perang mereka sendiri memiliki alasan yang lebih mulia daripada perang orang lain.

Sebagian pemikir optimis percaya bahwa manusia dapat belajar dari sejarahnya. Bahwa semakin kompleks peradaban, semakin besar peluang untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Namun pesimisme juga memiliki argumen yang kuat. Selama manusia masih memiliki hasrat untuk menguasai, selama pengakuan dan kekuasaan tetap menjadi mata uang sosial yang berharga, perang akan selalu memiliki kemungkinan untuk muncul kembali.

Mungkin perang memang bukan sekadar kegagalan peradaban. Ia juga merupakan potret yang memperlihatkan sisi paling purba dari manusia: keinginan untuk bertahan hidup dengan cara menjadi lebih kuat daripada yang lain.

Dan selama manusia masih memandang kekuatan sebagai bukti keberadaan, perang akan terus menjadi salah satu cara paling brutal—namun juga paling jelas—untuk menegakkan kalimat kepada dunia: kami berkuasa.