Zainuddin Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Oleh: Zainuddin, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Kedungademmu.id

Allah Swt. berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
(QS. Al-A‘raf: 31)


Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pendidikan diri untuk mengendalikan nafsu. Oleh karena itu, setelah Ramadan berakhir, nilai-nilai pengendalian diri tersebut seharusnya tetap tercermin dalam pola makan sehari-hari.

Seorang bijak mengatakan bahwa puasa adalah madrasah pengendalian diri. Maka, jangan sampai kelulusannya justru dirayakan dengan pola makan yang tidak terkendali. Kebiasaan berlebihan setelah Ramadan justru dapat menghilangkan hikmah dari ibadah puasa yang telah dijalani.

Tubuh adalah amanah dari Allah Swt. Menjaga pola makan merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan yang diberikan. Jangan menjadikan momen setelah puasa sebagai ajang pelampiasan keinginan yang selama ini ditahan. Sebaliknya, jadikan pola makan yang teratur sebagai cerminan jiwa yang telah dididik oleh kesabaran.

Kembalinya jadwal makan normal sejatinya menjadi ujian baru. Pada fase ini, seseorang diuji, apakah ia mampu mengendalikan nafsunya atau justru kembali dikuasai oleh keinginan yang berlebihan. Prinsip “makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan” perlu dijaga agar nilai kesederhanaan tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Kesehatan adalah nikmat yang sering kali baru disadari ketika hilang. Oleh karena itu, menjaga pola makan setelah Ramadan merupakan langkah penting untuk mempertahankan kualitas hidup dan kebugaran tubuh.

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
(HR Bukhari)

Seorang mukmin makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.”

Hadis ini mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri dalam makan. Seorang mukmin tidak berlebihan, melainkan menjaga keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan tubuhnya.

Dengan demikian, pola makan setelah Ramadan bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga cerminan kualitas spiritual. Mari kita jaga kesederhanaan, kendalikan nafsu, dan syukuri nikmat kesehatan dengan pola makan yang teratur dan tidak berlebihan.

Wallahu a‘lam bish-shawab.