Dr Bambang Utomo MM (Istimewa/kedungademmu.id)

Oleh: Dr Bambang Utomo, M M (Bendahara ICMI ORDA Bojonegoro)

Kedungademmu.id
— Bulan Ramadan sering disebut sebagai syahrul tazkiyatun nafs, yaitu bulan penyucian jiwa. Pada bulan yang penuh berkah ini, umat Islam diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk membersihkan diri dari berbagai dosa, memperbaiki akhlak, serta menata kembali kehidupan agar lebih dekat dengan nilai-nilai ketakwaan.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa merupakan proses pendidikan spiritual yang bertujuan membersihkan hati dari berbagai penyakit batin, seperti kesombongan, iri hati, kebencian, dan kemunafikan. Melalui puasa, seorang muslim dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu serta memperkuat kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ كَانَ فِي هٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

"Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)." (QS. Al-Isra’: 72)

Ayat tersebut memberikan peringatan yang sangat kuat bahwa kebutaan yang dimaksud bukanlah kebutaan fisik, melainkan kebutaan hati. Seseorang bisa saja memiliki mata yang dapat melihat dengan jelas, tetapi apabila hatinya tertutup dari kebenaran, maka ia tidak mampu memahami petunjuk Allah. Akibatnya, hidupnya akan jauh dari jalan yang lurus.

Ramadan hadir sebagai momentum untuk membuka kembali mata hati tersebut. Puasa mendidik manusia agar mampu mengendalikan diri, memperbaiki perilaku, serta menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih mendalam. Ketika seseorang berpuasa dengan penuh keikhlasan, ia akan berusaha menjaga lisannya, menahan amarah, menjauhi perbuatan dosa, dan memperbanyak amal kebajikan.

Selain menahan lapar dan dahaga, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat malam, memperbanyak sedekah, serta memperkuat kepedulian sosial kepada sesama. Semua amal tersebut merupakan bagian dari proses tazkiyatun nafs, yaitu upaya menyucikan jiwa agar hati menjadi bersih dan peka terhadap kebenaran.

Orang yang berhasil menjalani Ramadan dengan baik akan merasakan perubahan dalam dirinya. Ia menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, serta lebih peduli terhadap orang lain. Inilah bukti bahwa puasa telah menjadi sarana pembinaan karakter dan penyucian jiwa.

Sebaliknya, apabila Ramadan berlalu tanpa membawa perubahan dalam sikap dan perilaku, maka puasa yang dijalankan bisa jadi hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Padahal tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa serta memiliki hati yang bersih dari berbagai penyakit spiritual.

Oleh karena itu, mari kita menjadikan Ramadan sebagai kesempatan berharga untuk memperbaiki diri dan membersihkan hati. Dengan hati yang jernih dan jiwa yang suci, kita berharap dapat menjalani kehidupan di dunia dengan penuh keberkahan serta memperoleh keselamatan di akhirat kelak.

Kita memohon kepada Allah melalui puasa Ramadan yang dijalankan tahun ini dengan penuh keikhlasan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang hatinya “buta” di dunia dan di akhirat, sebagaimana peringatan Allah dalam teologis QS. Al-Isra’ ayat 72.

Selamat menyambut 01 Syawal 1447H Taqobbalallahu mina waminkum jaalanallaha wa iyakum minal aidin walfaizin