H. Sholikin Jamik Wakil Ketua PDM Bojonegoro

Oleh: H. Sholikin Jamik Wakil Ketua PDM Bojonegoro

Kedungademmu.id
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan ruhani seorang hamba menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah Swt. Dalam khazanah tasawuf, puasa dipahami dalam beberapa tingkatan: syariat, tarekat, hingga hakikat. Puncaknya adalah puasa orang-orang ma’rifat, yakni mereka yang telah mengenal Allah dengan hati yang jernih dan jiwa yang tenang.

Puasa syariat bersemayam di wilayah shadr (dada). Pada tahap ini, yang dibelenggu adalah nafsu amarah, dorongan kasar yang mengajak kepada keburukan. Seseorang menahan makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sesuai ketentuan hukum Islam.

Naik satu tingkat, puasa tarekat memasuki wilayah qalb (hati). Di sini, yang dikendalikan adalah nafsu lawwamah, jiwa yang masih berbolak-balik antara taat dan maksiat. Puasa tidak hanya menahan yang lahiriah, tetapi juga menahan diri dari dosa batin seperti riya, hasad, dan ujub. Hamba mulai menghadirkan rasa diawasi (muraqabah) dan malu kepada Allah (istihya’).

Adapun puasa hakikat meresap hingga ke fuad, relung terdalam jiwa. Inilah puasanya para ahlul muthma’innah, jiwa-jiwa yang tenang dalam ketaatan. Mereka tidak sekadar menahan lapar, tetapi menahan hati dari berpaling kepada selain Allah. Kerinduan dan cinta kepada-Nya justru semakin menyala di tengah lapar dan dahaga.

Rasulullah saw. bersabda dalam hadis qudsi:

Ash-shaum li wa ana ajzi bih.”

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (H.R. Imam Ahmad)

Sabda ini menegaskan bahwa puasa memiliki dimensi ketuhanan yang sangat dalam. Puasa adalah ibadah rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Dalam kitab Sirr al-Asrâr, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani mengutip hadis qudsi:
Yashîru lish-shâ’imi farhatân: farhatun ‘inda al-ifthâr wa farhatun ‘inda ru’yati jamâlî.”

Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika melihat keindahan-Ku.”

Ulama syariat memahami berbuka sebagai saat matahari terbenam dan kegembiraan Idulfitri. Namun ahli tarekat memaknainya lebih dalam: berbuka sejati adalah saat seorang hamba masuk surga dan menikmati karunia Allah, sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah saat bertemu dengan-Nya di akhirat.

Puasa hakikat mencapai puncaknya ketika hati paling dalam (lubb) terjaga dari selain Allah. Rahasia batin (sirr) tidak lagi mencintai dunia secara berlebihan. Dalam hadis qudsi disebutkan:
“Al-insânu sirrî wa ana sirruh.”
“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya.”

Artinya, ruh manusia berasal dari cahaya Ilahi. Jika hati masih berpaling kepada selain-Nya sebagai tujuan utama, maka hakikat puasa belum sempurna. Ia harus kembali, bertobat, dan memperbarui niatnya.

Ramadan seharusnya tidak hanya menjadi arena mengejar pahala, tetapi momentum mencari rida dan mahabbah Allah. Puasa bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani. Ia adalah jalan meneladani sifat-sifat kesempurnaan Ilahi: tidak zalim, tidak tercela, dan senantiasa dalam kebaikan.

Bagi para salik (penempuh jalan spiritual), minimal puasa harus mencapai derajat tarekat: menjaga lahir dan batin dari maksiat. Jika masih rajin beribadah namun tetap gemar berbuat dosa, berarti perjalanan menuju manusia paripurna masih panjang.

Akhirnya, puasa orang ma’rifat adalah puasa cinta. Puasa yang menahan diri dari segala yang menjauhkan dari Allah, dan mendekatkan diri kepada-Nya dalam setiap detik kehidupan. Semoga Ramadan kita tidak berhenti pada lapar dan dahaga, tetapi berlanjut pada ketenangan jiwa dan kedekatan dengan-Nya. Aamiin.