![]() |
| Pengurus dan peserta kegiatan kultum Ramadhan PC IPM Kedungadem berfoto bersama usai pelaksanaan kajian dan iftar dalam suasana kebersamaan dan penuh keakraban (Novpa/kedungademmu.id) |
Kultum pertama disampaikan oleh Muhammad Miko Abiansah, bidang Kajian dan Dakwah Islam (KDI) PC IPM Kedungadem yang juga mahasiswa Sains Data Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta memahami puasa Ramadhan melalui pendekatan teknologi.
Ia mengibaratkan puasa sebagai sebuah “algoritma” yang membentuk pola perilaku manusia menuju pribadi yang lebih baik. Setiap kebiasaan baik selama Ramadhan, menurutnya, akan menjadi “histori” yang membentuk kualitas diri seseorang.
“Semakin sering kita melatih diri menahan hawa nafsu dan mematuhi perintah Allah Swt., maka pola dalam diri akan terbentuk semakin baik, sehingga kita dapat terus berlomba dalam kebaikan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Ramadhan dapat dimaknai sebagai proses data cleaning atau pembersihan diri. Berbagai “gangguan” seperti perilaku negatif, kebiasaan buruk di media sosial, hingga konsumsi informasi yang tidak bermanfaat perlu dikurangi agar kualitas diri menjadi lebih jernih dan terarah. Selain itu, puasa juga diibaratkan sebagai proses pembentukan kebiasaan, di mana pelajar dilatih untuk tidak bersikap impulsif, melainkan mampu mengelola respons secara sadar.
Sementara itu, kultum kedua disampaikan oleh Amizy Nova Airul Ayunda Kurniawan. Ia menegaskan bahwa puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai bentuk pengendalian diri (self-regulation), termasuk dalam penggunaan media sosial.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan puasa untuk mencapai ketakwaan. Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, pelajar dituntut mampu “berpuasa” dari berbagai perilaku negatif di ruang digital.
“Puasa harus dimaknai sebagai latihan pengendalian diri, termasuk dalam menjaga etika bermedia sosial. Apa yang kita lakukan di ruang digital memiliki tanggung jawab moral dan hukum,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap aktivitas di ruang digital tidak terlepas dari tanggung jawab. Oleh karena itu, pelajar perlu memiliki kesadaran untuk bersikap bijak dalam menggunakan media sosial. Pengendalian diri yang dilatih selama Ramadhan menjadi fondasi penting dalam membentuk sikap disiplin dan etis, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia digital.
Melalui kegiatan ini, PC IPM Kedungadem berharap nilai-nilai Ramadhan tidak hanya berhenti pada aspek ibadah ritual, tetapi juga mampu membentuk karakter pelajar yang disiplin, bijak, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan era disrupsi, serta mampu mengintegrasikan nilai keislaman dengan perkembangan zaman secara seimbang.

