![]() |
| Sekretaris Daerah Bojonegoro, Edi Susanto saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Kajian Ramadan 1447 Hijriah PDM Bojonegoro (Lenteramu/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Apresiasi tinggi disampaikan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terhadap konsistensi Muhammadiyah dalam menghadirkan ruang-ruang pencerahan keagamaan bagi masyarakat. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro, Edi Susanto, saat memberikan sambutan dalam pembukaan Kajian Ramadan 1447 Hijriah Muhammadiyah Bojonegoro di Aula Taqwa, Ahad (8/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Edi Susanto mewakili Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, yang berhalangan hadir secara langsung pada kegiatan tersebut. Kendati demikian, melalui sambutan yang disampaikan oleh Sekda, pemerintah daerah tetap menegaskan dukungan dan apresiasinya terhadap berbagai aktivitas dakwah yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah.
Di hadapan para peserta kajian, Edi Susanto menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus penghargaan kepada Muhammadiyah Bojonegoro yang secara istikamah menyelenggarakan kajian-kajian yang menggabungkan dimensi intelektual dan spiritual dalam kehidupan umat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas keistikamahan Muhammadiyah Bojonegoro dalam menyelenggarakan kajian intelektual dan spiritual seperti hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan Kajian Ramadan memiliki arti penting dalam memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat sekaligus memperkaya tradisi intelektual Islam di tengah kehidupan sosial yang terus berkembang.
Ia menilai forum kajian seperti ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial keagamaan, melainkan ruang refleksi yang mengajak umat Islam untuk memperdalam pemahaman agama secara lebih komprehensif dan kontekstual.
“Tradisi kajian seperti ini adalah bagian dari proses pembelajaran bersama. Di dalamnya terdapat penguatan nilai moral, spiritual, sekaligus intelektual yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Edi Susanto juga menegaskan bahwa selama ini Muhammadiyah telah menjadi salah satu mitra strategis pemerintah daerah dalam berbagai upaya pembangunan, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia.
Menurutnya, kontribusi Muhammadiyah sangat nyata dalam membangun masyarakat yang berpendidikan dan berkarakter. Hal itu tampak dari berbagai amal usaha Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, serta pelayanan sosial yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Selama ini Muhammadiyah telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak mulia,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan daerah tidak dapat hanya mengandalkan pembangunan fisik semata. Kemajuan suatu daerah sangat ditentukan oleh kualitas manusianya—yakni manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan integritas moral yang kuat.
Dalam konteks itulah, peran organisasi kemasyarakatan keagamaan seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting. Melalui aktivitas dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial yang berkelanjutan, Muhammadiyah turut berkontribusi membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Pada kesempatan tersebut, Edi Susanto juga menyoroti tema besar yang diangkat dalam Kajian Ramadan kali ini, yakni tentang ekoteologi dan tugas kekhalifahan manusia di bumi. Ia menilai tema tersebut sangat relevan dengan berbagai tantangan global yang dihadapi umat manusia saat ini, terutama terkait persoalan lingkungan hidup.
Menurutnya, ekoteologi merupakan pendekatan pemikiran yang menghubungkan ajaran agama dengan tanggung jawab manusia terhadap alam semesta. Dalam perspektif Islam, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk yang menjalankan ibadah ritual, tetapi juga sebagai khalifah yang memiliki amanah untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian bumi.
“Tema yang diangkat hari ini, ekoteologi dan tugas kekhalifahan sangatlah visioner,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa konsep ekoteologi memberikan perspektif yang lebih luas mengenai makna kesalehan dalam kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya diukur dari intensitas ibadah personal semata, tetapi juga dari kepedulian terhadap lingkungan hidup.
“Ekoteologi mengajarkan kita bahwa kesalehan seorang Muslim tidak hanya diukur dari sujudnya di atas sajadah, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap kelestarian alam,” tegasnya.
Menurutnya, spiritualitas Islam memiliki dimensi ekologis yang sangat kuat. Dalam berbagai ajaran Al-Qur’an, manusia diingatkan untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi dan untuk menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari amanah yang diberikan oleh Allah Swt.
Edi Susanto menambahkan bahwa berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini—seperti kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, hingga perubahan iklim—memerlukan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat.
Dalam hal ini, tokoh agama dan organisasi keagamaan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian ekologis yang berlandaskan ajaran agama.
Ia berharap kajian-kajian yang mengangkat perspektif keislaman tentang lingkungan seperti ini dapat memperkuat kesadaran umat bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi.
Di akhir sambutannya, Edi Susanto menyampaikan harapan agar Kajian Ramadan Muhammadiyah Bojonegoro dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna, dengan mengintegrasikan iman, ilmu pengetahuan, serta kepedulian terhadap lingkungan.

