![]() |
| Tim nasional Iran setelah suatu pertandingan (Jawapos.com/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Tim nasional Iran dipastikan tidak akan berpartisipasi dalam ajang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko Juni nanti. Keputusan tersebut diumumkan pemerintah Iran di tengah meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu ketegangan antara Teheran dan Washington.
Pernyataan resmi mengenai mundurnya Iran disampaikan oleh Menteri Olahraga negara itu, Ahmad Donyamali. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa negaranya tidak mungkin mengirimkan tim nasional untuk bertanding di turnamen yang sebagian besar pertandingannya berlangsung di Amerika Serikat. Keputusan tersebut diambil setelah situasi keamanan dan politik di kawasan semakin memanas.
Donyamali bahkan menyampaikan pernyataan keras terkait kondisi politik yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Ia menyebut kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan militer sebagai salah satu faktor utama yang membuat Iran menolak tampil di Piala Dunia. Menurutnya, mustahil bagi Iran untuk berpartisipasi dalam turnamen internasional di negara yang dianggap memiliki peran dalam konflik tersebut.
“Karena rezim yang korup itu telah membunuh pemimpin kami, kami tidak berniat berpartisipasi dalam Piala Dunia,” ujar Donyamali dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Keputusan mundur Iran tidak bisa dilepaskan dari eskalasi konflik militer di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah operasi militer gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut memicu rangkaian aksi balasan dari Iran ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah.
Dalam situasi seperti itu, pemerintah Iran menilai bahwa prioritas utama negara saat ini adalah menghadapi situasi keamanan dan melindungi rakyatnya. Menteri Olahraga Iran menyatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir negaranya dipaksa menghadapi konflik bersenjata yang menyebabkan ribuan korban jiwa. Kondisi tersebut membuat Iran tidak memiliki ruang untuk mempersiapkan tim nasional menghadapi turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Menurut Donyamali, situasi keamanan yang tidak stabil membuat partisipasi Iran di Piala Dunia hampir mustahil. Ia menilai tidak ada kondisi yang memungkinkan bagi tim nasional untuk melakukan persiapan, perjalanan internasional, ataupun pertandingan di negara tuan rumah.
Ironisnya, keputusan mundur ini terjadi ketika Iran sebenarnya sudah memastikan tempat di putaran final Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi. Tim yang dijuluki Team Melli tersebut bahkan telah ditempatkan dalam Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Seluruh pertandingan fase grup Iran rencananya akan berlangsung di kota-kota Amerika Serikat.
Jika tetap bertanding, Iran dijadwalkan memainkan beberapa laga penting di kota-kota besar seperti Los Angeles dan Seattle. Namun, dengan kondisi geopolitik yang kian memanas, partisipasi tersebut akhirnya dibatalkan.
Padahal sebelumnya, Presiden FIFA, Gianni Infantino, sempat melakukan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait kemungkinan keikutsertaan Iran di turnamen tersebut. Dalam pertemuan tersebut, Trump disebut memberikan jaminan bahwa tim nasional Iran tetap dipersilakan bertanding di Amerika Serikat.
Infantino bahkan menekankan bahwa Piala Dunia seharusnya menjadi ajang yang menyatukan masyarakat dunia—terutama di tengah situasi global yang penuh ketegangan. Namun, jaminan tersebut tidak cukup untuk meredakan kemarahan pemerintah Iran yang masih memandang konflik politik sebagai hambatan besar bagi keikutsertaan mereka.
Mundurnya Iran tentu menjadi pukulan tersendiri bagi penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Turnamen ini rencananya akan menjadi Piala Dunia terbesar dalam sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta dan digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Dengan absennya Iran, FIFA kini harus mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengisi slot yang kosong di turnamen tersebut. Berdasarkan regulasi yang berlaku, badan sepak bola dunia itu memiliki kewenangan penuh untuk menentukan tim pengganti apabila ada peserta yang mengundurkan diri setelah lolos ke putaran final.
Beberapa negara yang sebelumnya gagal lolos dari kualifikasi Asia disebut-sebut berpeluang menggantikan posisi Iran. Namun hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai tim yang akan mengisi slot tersebut.
Kasus ini juga berpotensi memunculkan konsekuensi bagi Iran. Berdasarkan regulasi FIFA, negara yang mengundurkan diri dari turnamen besar setelah lolos kualifikasi dapat dikenai sanksi administratif maupun finansial—bahkan kemungkinan pembatasan keikutsertaan di kompetisi internasional pada masa mendatang.
Bagi Iran, keputusan mundur dari Piala Dunia mungkin merupakan langkah politik yang dianggap perlu dalam situasi perang. Namun bagi dunia sepak bola, absennya salah satu kekuatan Asia tersebut meninggalkan pertanyaan besar mengenai bagaimana olahraga global dapat tetap berjalan di tengah konflik internasional yang terus memanas.

