Kebijakan ini diambil menyusul prakiraan kondisi kemarau di Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, yang diprediksi lebih kering dari kondisi normal dengan durasi yang lebih panjang. Hal ini berpotensi memengaruhi ketersediaan air serta produktivitas pertanian di berbagai wilayah.
Berdasarkan data dari BMKG Tuban, awal musim kemarau di Kabupaten Bojonegoro diperkirakan terjadi secara bertahap dalam tiga dasarian. Pada April dasarian II (11–20 April), wilayah yang mulai memasuki kemarau meliputi Kecamatan Balen, Baureno, Kanor, dan Kepohbaru. Selanjutnya, pada April dasarian III (21–30 April), kemarau diprediksi meluas ke sejumlah kecamatan lain seperti Bojonegoro, Dander, Gayam, Kalitidu, hingga Padangan dan Trucuk.
Sementara itu, wilayah seperti Bubulan, Gondang, Kedungadem, Ngambon, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, dan Temayang diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei dasarian I (1–10 Mei).
Melalui surat edaran tersebut, pemerintah daerah mengimbau para petani untuk menyesuaikan pola tanam, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta memanfaatkan teknologi pertanian yang adaptif terhadap kondisi kekeringan. Selain itu, koordinasi lintas sektor juga diperkuat guna memastikan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau.
Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan risiko gagal panen serta menjaga ketahanan pangan daerah. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menegaskan komitmennya untuk terus hadir memberikan solusi strategis bagi para petani di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.

