Gagasan emansipasi yang diperjuangkan R.A. Kartini sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam. Bahkan, dalam sejumlah catatannya, Kartini mengaku terinspirasi setelah membaca Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal ini menunjukkan bahwa semangat pembebasan perempuan yang ia suarakan memiliki kesesuaian dengan ajaran Islam yang telah lebih dahulu mengangkat derajat perempuan sejak 14 abad lalu.
Dalam sejarah Islam, banyak sosok perempuan yang menjadi teladan emansipasi berbasis nilai keislaman. Khadijah binti Khuwailid, misalnya, dikenal sebagai pengusaha sukses yang mandiri secara finansial. Kekayaannya tidak digunakan untuk kepentingan pribadi semata, tetapi didedikasikan untuk mendukung dakwah Islam. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dapat berdaya secara ekonomi sekaligus memberi manfaat bagi umat.
Selain itu, Aisyah binti Abu Bakar menjadi contoh perempuan berilmu yang berperan besar dalam pengembangan pengetahuan Islam. Ia meriwayatkan ribuan hadis dan menjadi rujukan para sahabat dalam berbagai persoalan hukum. Perannya menegaskan bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu.
Di bidang perjuangan, Nusaibah binti Ka’ab menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk berkontribusi dalam situasi penting. Dalam Perang Uhud, ia turut melindungi Rasulullah SAW dengan penuh keberanian. Kisah ini menjadi bukti bahwa Islam membuka ruang partisipasi perempuan di berbagai bidang sesuai kebutuhan dan kapasitasnya.
Islam menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13).
Semangat emansipasi dalam Islam juga tercermin dalam gerakan perempuan Muhammadiyah yang terus berkontribusi dalam bidang pendidikan, sosial, dan kemanusiaan. Perjuangan tersebut tidak hanya berfokus pada perempuan, tetapi juga pada upaya menciptakan masyarakat yang adil dan berkemajuan.
Kartini tidak melawan ajaran agama, melainkan berupaya menemukan nilai Islam yang memuliakan perempuan di tengah budaya yang membatasi. Hingga kini, tantangan seperti kekerasan, diskriminasi, dan ketimpangan masih menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan peran aktif perempuan.
Pada akhirnya, emansipasi dalam Islam dapat dimaknai sebagai upaya menjadi perempuan terbaik dalam peran apa pun yang dijalani, dengan bekal ilmu, akhlak, dan kebermanfaatan.
Sebagaimana ungkapan Kartini, “Habis gelap terbitlah terang,” Islam pun menegaskan:
"Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya." (QS. Al-Baqarah: 257).
Selamat Hari Kartini. Jadilah cahaya yang terus menerangi peradaban.

