Ahmad Nurefendi Fradana
Ia menyebutnya filterworld—sebuah dunia yang telah kehilangan ketajamannya, karena semuanya telah dilembutkan agar cocok dengan selera mayoritas. Tiada lagi perbedaan dan keunikan. Dan dari sana, kita bisa mulai membaca ulang kebiasaan kita sendiri.
Ada satu kebiasaan kecil yang kini terasa—karena dianggap—wajar: membuka ponsel tanpa alasan pasti. Bukan semata sebab ada pesan penting, bukan pula karena ada pekerjaan mendesak. Sekadar membuka—lalu tinggal lebih lama di sana dari yang direncanakan. Merambat dari satu konten ke konten lain, dari satu isu ke isu berikutnya. Kita bergerak, tapi tidak benar-benar menuju apa-apa. Tak pernah ke mana-mana. Di situlah algoritma bekerja: bukan sebagai alat, melainkan sebagai lingkungan.
Kita telah terperangkap—dan terjebak di belantara algoritma. Ia tidak lagi berdiri di luar kita. Ia kini telah masuk ke dalam ritme hidup kita: menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita lewatkan, bahkan apa yang kita anggap penting. Era digital, yang dulu terasa tak lebih seperti sebuah pilihan, kini menjelma menjadi sebutlah keharusan yang tak bisa banyak ditawar.
Nyaris setiap urusan hidup didekati dan diselesaikan melalui piranti digitalisasi—lebih-lebih media sosial. Kita membaca kabar dari sana, membangun opini dari sana, dan—tanpa sadar—mengukur dunia juga dari sana. Lalu kita kemudian berada pada situasi di mana dunia yang kita lihat terasa begitu rapi, begitu sesuai, dan begitu “diri kita”. Padahal, dunia tidak pernah sesederhana itu.
Ternyata, algoritma kian mendikte hajat hidup kita. Ia bekerja nyaris tanpa suara, tapi dengan derajat ketelitian yang tak main-main. Ia mencatat apa yang kita klik, berapa lama kita berhenti, dan apa yang kita ulang-ulang. Ia mengingat dengan saksama kecenderungan kita—bahkan sebelum kita sempat menyadarinya. Dari sanalah ia kemudian menyusun profil: versi digital dari diri kita yang jauh lebih konsisten daripada kita sendiri.
Profil itu lalu menjadi dasar bagi satu hal yang lebih halus: penyaringan realitas. Apa yang kita lihat bukan lagi dunia yang luas, melainkan dunia yang telah disetel oleh alat. Apa yang kita dengar bukan lagi keragaman suara, melainkan gema dari preferensi yang kita ciptakan sendiri. Kita merasa memahami banyak hal—padahal kita hanya berputar-putar di lingkaran yang sama.
Di sinilah persoalan mulai bergerak dari teknologi ke sesuatu yang lebih dalam: selera. Chayka membongkar bahwa algoritma tidak hanya mengatur distribusi, tetapi juga meratakan kebudayaan. Ia mempromosikan yang aman, mengulang yang berhasil, dan menyingkirkan yang terlalu berbeda. Akibatnya, keberagaman mengalami penyusutan yang hampir tak terasa.
Lihatlah. Kafe-kafe di berbagai kota tampak mirip. Musik yang kita dengar mengikuti pola yang nyaris selalu sama. Estetika visual—warna, komposisi, bahkan ekspresi—menjadi seragam dan diseragamkan. Ini sungguh bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari sistem yang mengutamakan keterulangan. Yang unik menjadi anomali. Yang berbeda menjadi risiko. Dan di titik inilah kita sampai pada soal yang lebih mendasar: kedaulatan selera.
Selera, dalam pengertian yang lama, adalah hasil dari proses yang tidak selalu efisien. Ia tumbuh dari pertemuan yang tak terduga, dari pengalaman yang kadang bertentangan, dari pilihan yang belum tentu selalu populer. Ia adalah ruang di mana manusia belajar membedakan—bukan hanya berdasarkan kesukaan, tetapi juga berdasarkan pemahaman.
Namun dalam lanskap algoritmik, selera cenderung diproduksi secara instan. Ia tidak lagi tumbuh, tetapi memang dibentuk. Kita menyukai sesuatu bukan karena sesuatu itu menggugah, tetapi karena ia kerap muncul di beranda media sosial kita. Kita merasa itulah pilihan kita, padahal itu adalah hasil dari paparan yang berulang-ulang.
Akhirnya, kita tidak lagi berdaulat atas selera—yang seharusnya menjadi domain dan wilayah kuasa kita sendiri. Kita memang masih bisa memilih, tetapi pilihan itu pada dasarnya telah dipagari. Kita masih merasa bebas, tetapi kebebasan itu sesungguhnya telah disusun. Kita masih menganggap diri sebagai subjek, padahal kita kian dekat dengan posisi objek—yang diamati, yang diprediksi, dan yang diarahkan.
Barangkali benar cibiran Byung-Chul Han dalam The Burnout Society: manusia modern senantiasa berhasrat untuk menjadi subjek yang terus terdorong untuk aktif, produktif, dan terhubung. Algoritma tidak menciptakan dorongan itu, tetapi justru mempercepatnya. Ia menyediakan apa yang kita inginkan—dengan cara yang membuat kita ingin terus menginginkan. Tanpa pertemuan dengan yang asing, selera menjadi kehilangan daya jelajahnya; menjadi hilang kedalamannya. Dan tanpa kedalaman, selera berubah menjadi hanya sebagai kebiasaan yang berulang.
Rasanya, manusia—berikut hasratnya—telah berlebihan dan over dosis dalam menyembah algoritma. Kita menginginkan kemudahan, dan algoritma memberikannya. Kita menghindari ketidaknyamanan, dan algoritma menyaringnya. Tapi dalam proses itu, kita juga kehilangan sesuatu yang lebih penting: kemampuan untuk mengalami dunia secara utuh.

